Jika kita membaca judul artikel ini mungkin terdengar agak satire. Yap, bukan maksud menyindir, tapi itulah realita yang terjadi. Banyak guru yang mengeluh dan seakan takut terhadap penerapan K-13 di sekolah. Meskipun sebenarnya ketakutan itu lebih karena ketidaksiapan kita dalam menerima perubahan. Kita sudah terlalu nyaman dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya, yang esensinya tidak mengalami perubahan meskipun namanya berubah-ubah. Esensi pembelajaran kemudian berubah drastis saat K-13 mulai diterapkan.
K-13 menitikberatkan pada pemakaian pendekatan pembelajaran, yaitu pendekatan saintifik.Meskipun kata saintifik tersebut belum terdapat pada kamus, tetapi kata itulah yang menjadi "merk dagang" K-13. Namun, sungguh disayangkan, "merk dagang" tersebut ternyata tak laku ketika "dijual" kepada sebagian besar guru (terutama yang sudah profesional). Pendekatan saintifik tidak pernah terdengar pada kurikulum-kurikulum sebelumnya. Namun, sebenarnya "merk dagang" inilah yang menarik bagi sebagian guru (atau mungkin hanya saya saja).
Penerapan pendekatan saintifik ibarat seperti semangat Renaisans yang membawa masyarakat Eropah menuju Aufklarung. Penerapan pendekatan saintifik pada K-13 bak seperti berubahnya masa dimana masyarakat Eropa yang semula hanya mengikuti "doktrin" pada buku berubah menjadi masyarakat Eropa yang berfikir terbuka dan lebih kritis. Pada saat itulah, titik awal kemajuan bangsa Eropa yang bertahan hingga sekarang.
Pada kurikulum-kurikulum sebelumnya, pembelajaran layaknya pendoktrinan. Buku pelajaran dan guru adalah sumber pengetahuan yang utama. Murid tidak diberi kesempatan untuk membangun pengetahuannya sendiri, melainkan harus dibangun dengan cara membaca buku pelajaran dan mendengarkan guru.Hal ini tidak berlaku pada pendekatan saintifik.
Pendekatan saintifik bertujuan untuk melatih murid dalam membangun pengetahuannya sendiri. Murid diberi kebebasan untuk lebih peka terhadap lingkungannya melalui kegiatan mengamati. Murid diberi kebebasan untuk berfikir kritis melalui kegiatan menanya. Murid diberi kelonggaran untuk mencari sumber pengetahuan baru melalui kegiatan mengumpulkan informasi. Murid diberikan kebebasan untuk mengembangkan logika melalui kegiatan menalar/mengasosiasi. Murid diberikan kesempatan untuk menunjukkan hasil pemikirannya melalui kegiatan menyajikan informasi. Kegiatan-kegiatan itulah yang diharapkan mampu membangun generasi Bangsa Indonesia menjadi lebih cerdas.
Selain pendekatan saintifik, hal yang menarik pada penerapan K-13 ialah penerapan pendidikan berbasis karakter. Pendidikan berbasis karakter merupakan bentuk upaya pemerintah dalam memperbaiki karakter generasi bangsa yang sudah mulai hancur. Pendidikan karakter memang perlu dilakukan untuk mempersiapkan generasi bangsa menghadapi pola penjajahan negara asing yang bersifat lebih halus, yaitu penjajahan moral.
Meskipun saya sangat setuju penerapan K-13 yang menggunakan pendekatan saintifik dan berbasis karakter, tetapi ada beberapa catatan yang bisa saya berikan kepada konsep K-13. Pertama, penerapan pendekatan saintifik hendaknya mulai diberikan kepada jenjang sekolah SD kelas 4 hingga kelas XII SMA. Alasannya, anak kelas 1 s.d. 3 SD dirasa belum siap menerima pendekatan saintifik. Mereka baru pada tahap awal belajar. Jika diibaratkan, mereka baru membuat sebuah sendok untuk dapat mengambil sup pengetahuan. Dengan kata lain, mereka masih dalam tahap mempelajari bahasa, menulis, dan berhitung yang merupakan kunci dari ilmu pengetahuan.
Kedua, pembelajaran tematik yang selama ini diberikan pada murid SD sebaiknya diberikan kepada murid SMA. Seperti yang kita tahu, pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang membutuhkan pengetahuan yang lengkap. Artinya, pembelajaran tematik bisa dilakukan apabila murid sudah mendapatkan pelajaran yang sifatnya lebih khusus. Misalnya, jika pembelajaran memiliki tema lingkungan hidup maka siswa harus mendapatkan intisari dari cabang-cabang ilmu seperti biologi, geografi, maupun ekonomi. Sehingga, siswa dapat mempelajari tema lingkungan hidup dengan menyatukan pandangan ilmu biologi, geografi, maupun ekonomi.
Ketiga, karaker yang akan dibentuk pada diri siswa harus menyesuaikan dengan mata pelajaran yang bersangkutan. Misalnya, karakter yang dibentuk pada pelajaran ekonomi meliputi : sikap hemat, pengelolaan uang, pandai membuat alternatif, dan sebagainya. Misalnya, lagi, karakter yang dibentuk pada pelajaran biologi meliputi : selalu menjaga kebersihan, mencintai makhluk hidup, merawat lingkungan, dan sebagainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar