Sabtu, 08 April 2017

Makna Belajar

Kita belajar untuk:
1. Memudahkan komunikasi
2. Mencari kebenaran.
3. Menciptakan kemandirian.
4. Menaati aturan.

Kamis, 06 April 2017

Apakah LKS itu penting?

Lembar Kerja Siswa (LKS) hampir tertulis dalam semua Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) guru. Ada yang menuliskan LKS sebagai sumber belajar, ada yang menulis LKS sebagai alat pembelajaran, ada pula yang menulis LKS sebagai media pembelajaran. Entah sejak kapan fenomena ini bermunculan, tetapi kemunculan LKS sebagai benda yang multifungsi dalam pembelajaran tak bisa dipungkiri. 

Lembar Kerja Siswa yang merupakan benda multifungsi dalam pembelajaran telah dianggap memiliki peran yang penting dalam proses pembelajaran formal. Bahkan, ada anggapan bahwa suatu mata pelajaran  sulit untuk  berlangsung jika  mata pelajaran tersebut tidak memiliki LaKS. Hal ini tentu menjadi ironi yang terjadi di dunia pembelajaran formal. Adanya anggapan tersebut menunjukkan bahwa guru telah kehilangan kreativitas dalam menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif.

Lembar Kerja Siswa yang selama ini beredar di sekolah merupakan terbitan dari perusahaan penerbitan yang sebagian besar merupakan perusahaan swasta. Lembar Kerja Siswa disusun dan dicetak oleh perusahaan swasta tentu berorientasi pada pasar. Pasar LKS yang dimaksud adalah guru. Guru merupakan konsumen tingkat pertama dari bisnis ini. Apa yang dibutuhkan oleh guru tentu akan penuhi oleh perusahaan-perusahaan tersebut. Perusahaan penerbit akan menyusun LKS sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kebutuhan guru.

Akibat dari kebutuhan pasar, muncul LKS yang memiliki isi dan struktur yang unik. Keunikan ini terletak pada isi LKS yang lebih mengutamakan rangkuman materi pembelajaran dan alat evaluasi hasil pembelajaran. Padahal, jika ditelaah dari segi bahasa, LKS seharusnya hanya berisi tentang panduan siswa untuk mempelajari materi secara mandiri sekaligus sebagai alat evaluasi terhadap proses belajar yang dilalui siswa. 

Lembar kerja siswa sebaiknya berisi tentang kumpulan permasalahan, fenomena, teori yang bisa digunakan siswa sebagai bahan untuk ditelit. Pada pelajaran rumpun IPS, LKS bisa disusun dari kumpulan artikel yang berkaitan dengan materi dan bidang studi bersangkutan. Misalnya, LKS yang akan digunakan untuk mengajarkan pelajaran geografi pada bab hidrosfer, mengandung muatan yang isinya adalah artikel-artikel tentang peristiwa banjir. Muatan ini diharapkan mampu memotivasi siswa untuk tertarik meneliti tentang hidrosfer. Pada pelajaran rumpun IPA, LKS bisa disusun dari kumpulan permasalahan sehari-hari yang bisa dipecahkan melalui pembelajaran tentang materi dan bidang studi yang bersangkutan.

Jika LKS bisa memuat hal yang mampu memotivasi siswa untuk melakukan penelitian, maka LKS dapat membantu menciptakan pembelajaran yang bersifat inkuiri maupun diskoveri. Pembelajaran inkuiri dan diskoveri merupakan pembelajaran yang bisa menjawab tantangan masyarakat modern. Pembelajaran inkuiri dan diskoveri akan membentuk manusia yang siap menerima arus informasi yang deras yang terjadi pada masa manusia modern.

Sabtu, 01 April 2017

Bagaimana Merumuskan Indikator Pembelajaran?

Indikator pembelajaran merupakan tolok ukur ketercapaian pembelajaran siswa. Indikator berguna untuk memberikan batasan sejauh manakah siswa telah menguasai materi pembelajaran maupun belum. Indikator pembelajaran dapat digunakan sebagai dasar perumusan proses pembelajaran hingga evaluasi.

Indikator pembelajaran disusun oleh guru. Penyusunannya tentu pelu disesuaikan oleh banyak hal. Faktor yang berpengaruh terhadap penyusunan indikator pembelajaran yaitu:
1. Kompetensi dasar.
Indikator merupakan pengembangan dari kompetensi dasar. Indikator pembelajaran tidak boleh keluar dari muatan kompetensi dasar.
2. Fasilitas pembelajaran.
Penyusunan indikator juga harus memperhatikan media pembelajaran dan alat pembelajaran yang tersedia. Penyusunan indikator pembelajaran yang tidak memerhatikan fasilitas pembelajaran tersebut tentu sangat sulit untuk tercapai.
3. Kondisi lingkungan siswa.
Indikator pembelajaran juga bisa menjadi patokan materi pembelajaran yang hendak disampaikan. Materi pembelajaran yang baik tentu berhubungan dengan kondisi lingkungan siswa. Sehingga, indikator pembelajaran juga perlu memerhatikan  kondisi lingkungan siswa.
4. Tingkat kemampuan berfikir siswa.
Siswa memiliki tingkat kemampuan berfikir dari yang paling mudah hingga yang paling susah. Tingkat kemampuan berfikir ini tentu mempengaruhi perumusan indikator. Sehubungan dengan tingakt pemikiran siswa ini pada ranah kognitif, indikator dapat disusun sebagai berikut. 
a. Indikator tentang penguasaan istilah.
b. Indikator tentang penjelasan terhadap proses.
c. Indikator tentang pengelompokkan atau klasifikasi.
d. Indikator tentang prediksi atau kemungkinan.
e. indikator tentang penilaian.