Sabtu, 11 Maret 2017

Bagaimana Melatih Siswa Bertanya

Siswa akan termotivasi belajar jika mereka memiliki rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu siswa dapat terwujudkan dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang diungkapkan saat terjadi pembelajaran. Semakin banyak pertanyaan yang diungkapkan siswa maka dapat diduga bahwa rasa ingin tahu siswa itu semakin tinggi. Dengan kata lain, motivasi belajar siswa juga semakin tinggi. Akan tetapi, pertanyaan yang diungkapkan oleh siswa harus berkualitas baik. Kualitas ini dapat dinilai berdasarkan isi pertanyaan dan struktur kalimat pertanyaan yang diungkapkan. Pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi memiliki beberapa ciri, antara lain:

a. Pertanyaan berhubungan dengan materi pelajaran.
Pertanyaan yang diungkapkan siswa harus berkaitan dengan materi pelajaran. Jika tidak berhubungan dengan materi pembelajaran, guru dapat meminta siswa untuk bertanya ke guru mata pelajaran lain yang sesuai dengan  pertanyaan itu.

b. Pertanyaan berasal dari pengalaman siswa.
Saat siswa menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan pengalamannya, maka itu menunjukkan jika siswa selalu berfikir dan peka terhadap keadaan sekitarnya. Pengalaman siswa saat menonton berita di televisi, membaca surat kabar, bepergian ke luar rumah, dan sebagainya, dapat menjadi bahan pertanyaan ketika siswa berada di kelas. Hal ini tentu perlu diapresiasi karena hal ini menunjukkan bahwa dimanapun siswa tersebut berada, dia selalu melakukan proses berfikir.

c. Pertanyaan tidak bersifat retoris.
Pertanyaan yang bisa muncul saat pembelajaran dapat bersifat retoris. Pertanyaan itu sebenarnya sudah terjawab sendiri tanpa perlu ditanyakan kepada orang lain. Jika muncul pertanyaan retoris, ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, siswa tersebut ingin diperhatikan oleh guru. Kedua, guru belum mampu mengajarkan materi dengan jelas sehingga siswa tersebut ingin memperjelas materi pelajaran yang diterimanya.

d. Pertanyaan tidak digunakan untuk menguji kepandaian guru.
Ada satu cara untuk mengetahui apakah pertanyaan dari siswa tersebut diungkapkan untuk menguji kepandaian guru atau tidak, yaitu dengan melakukan umpan balik yang benar. Tidak semua pertanyaan siswa harus dijawab oleh guru. Guru sebaiknya memberi umpan balik kepada siswa, misalnya dengan menugaskan siswa seluruh kelas untuk menjawab pertanyaan itu.

Agar siswa memiliki kebiasaan bertanya dengan baik dan benar, maka perlu diperhatikan beberapa hal. Berikut ini adalah saran yang bisa diberikan agar siswa dapat membuat pernyataan yang berkualitas pada saat pembelajaran.

1. Berfikir kritis adalah kuncinya.
Seorang guru hendaknya selalu memberi contoh untuk berfikir secara kritis. Semakin kritis pemikiran seorang guru dalam menilai suatu hal, maka pemikiran itu akan ditiru oleh murid-muridnya. Semakin murid berfikir kritis, maka semakin banyak pertanyaan yang berkualitas.

2. Mulai dari tertulis hingga spontan.
Ada beberapa faktor seorang murid tidak bertanya saat pembelajaran. Salah satunya ialah rasa malu. Rasa malu bertanya memang tidak bisa dihilangkan secara instan. Namun, hal ini dapat dikurangi sedikit demi sedikit. Siswa perlu dilatih untuk membuat pertanyaan pada selembar kertas. Pertanyaan tersebut kemudian perlu diapresiasi. Jika hal ini dilakukan berulang-ulang, siswa tentu akan semakin mahir dalam bertanya. Pada akhirnya, siswa pun dapat bertanya secara spontan.

3. Jangan pernah mengatakan "saya tidak tahu".
Pengetahuan dan wawasan guru memang ada batasnya, tetapi seorang guru jangan pernah menagatakan " saya tidak tahu". Semakin sering guru mengatakan kata itu, semakin hilang kepercayaan siswa kepada guru tersebut untuk bertanya. Jika memang seorang guru tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan siswa, umpan balik terbaik yang bisa dilakukan adalah menanyakan kembali pertanyaan itu kepada seluruh siswa di kelas dan digunakan sebagai penugasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar