Jumat, 31 Maret 2017

Mengajarkan Penelitian

Beberapa mata pelajaran di sekolah jenjang SMA/MA mengandung kompetensi dasar tentang  "penelitian". Materi penelitian bisa menjadi dasar dari pembelajaran saintifik. Siswa akan kesulitan melaksanakan pembelajaran saintifik jika tidak dibekali dengan materi penelitian. Hal ini tentu melatarbelakangi beberapa mata pelajaran yang meletakkan kompetensi dasar penelitian setelah kompetensi dasar hakikat ilmu mata pelajaran yang bersangkutan.

Pada materi penelitian, terdapat beberapa pokok materi yang perlu diajarkan kepada siswa. Pokok materi ini tentu harus menjadi indikator dalam pembelajaran materi penelitian. Indikator yang perlu dicapai dalam pembelajaran materi penelitian antara lain:
1. Siswa mampu menjelaskan tentang konsep penelitian.
Konsep penelitian harus dipahami oleh siswa. Siswa harus memiliki persepsi yang benar terhadap makna dari penelitian. Jika mereka telah mampu mengenali makna penelitian, maka diharapkan mereka juga mampu melakukan penelitian dalam pemecahan masalah di kehidupan sehari-hari.
2. Siswa mampu memberi contoh permasalahan penelitian.
Setiap mata pelajaran tentu memiliki objek kajian yang berbeda-beda. Objek ini memang terkadang merupakan permasalahan yang sama, sehingga terjadi benturan objek kajian antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain. Namun, siswa dituntut untuk mampu memisahkan permasalahan hingga mampu dikaji atau diteliti oleh satu mata pelajaran saja. Misalnya, kemiskinan merupakan permasalahan yang bisa diteliti oleh mata pelajaran ekonomi dan sosiologi. Namun, ekonomi lebih menitikberatkan pada hal keuangan dan sosiologi menitikberatkan pada hal yang bersifat sosial. Pada akhirnya, penelitian tentang kemiskinan pada mapel ekonomi lebih kepada upaya-upaya kebijakan keuangan dan penelitian tentang kemiskinan pada mapel sosiolo lebih kepada upaya yang bersifat sosial.
Jika siswa mampu mengetahui batasan-batasan suatu permasalahn sehingga dapat diteliti oleh suatu mata pelajaran saja, maka siswa pasti mampu memberikan contoh-contoh permasalahan penelitian sesuai dengan mapel yang dipelajari.
3. Siswa mampu mengidentifikasi metode penelitian.
Pada satu cabang ilmu pengetahuan bisa terdapat lebih dari satu metode penelitian. Sehingga, agar siswa mampu mengidentifikasi metode penelitian maka guru bisa memberikan contoh penelitian dengan berbagai macam metode penelitian.

Berdasarkan saran indikator tersebut, berikut ini langkah-langkah yang bisa dilakukan guru pada saat pembelajaran dengan materi penelitian.

1. Apersepsi tentang manfaat penelitian.
2. Pengamatan terhadap contoh-contoh penelitian.
3. Mengidentifikasi syarat-syarat agar suatu permasalahan bisa diteliti.
4.  Merancang penelitian.

Teknik Pembelajaran untuk Kegiatan Menyajikan Informasi

Kegiatan menyajikan informasi merupakan kegiatan terakhir dari pembelajaran saintifik. Ada banyak media yang bisa dimanfaatkan dalam kegiatan ini. Majalah dinding, website, naskah drama, pamflet, poster, ensiklopedia merupakan contoh media yang bisa dipakai siswa untuk menyajikan hasil pembelajaran. Hal terpenting pada kegiatan ini terletak pada kemampuan guru memberikan apresiasi terhadap hasil penyajian karya siswa. Semakin baik apresiasi diberikan, semakin besar motivasi belajar siswa pada pembelajaran selanjutnya.
1. A-Z taxonomy.
Teknik ini dilakukan dengan mengajak siswa untuk membuat daftar istilah yang ia pelajari selama proses pembelajaran. Daftar istilah tersebut kemudian diurutkan sesuai abjad. Hasilnya dapat diwujudkan dalam bentuk kamus maupun ensiklopedia.
2. Picture making.
Teknik ini dilakukan dengan cara menugaskan siswa untuk membuat gambar yang mampu merepresentasikan  hasil pembelajaran. kegiatan ini bisa dilakukan dengan berbagai macam media. Intinya, media tersebut merupakan tampilan hasil dari kegiatan pembelajaran siswa. Media yang bisa digunakan antara lain, yaitu: poster, pamflet, video, blog, dan sebagainya.
3. Pameran dan pentas seni.
Pameran dan pentas seni digunakan untuk menampilkan hasil pembelajaran siswa dalam mata  pelajaran kesenian. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan jika mata pelajaran lain juga bisa disampaikan melalui pameran maupun pentas seni. Misalnya, pada mata pelajaran sejarah, hasil dari penelitian siswa dapat diwujudkan dalam bentuk pementasan drama kolosal yang naskahnya berasal dari temuan siswa.
4. Jurnal ilmiah.
Teknik ini dilakukan dengan cara menugaskan siswa menulis jurnal ilmiah.

Teknik Pembelajaran untuk Kegiatan Mengasosiasi/Menalar

Pada pembelajaran saintifik, langkah ke empat disebut dengan kegiatan menalar atau mengasosiasi. Kegiatan ini dilakukan dengan cara mengkaji informasi yang telah diperoleh berdasarkan kegiatan sebelumnya. Kegiatan ini bertujuan untuk dapat melatih siswa mengembangkan pemikiran logis serta mampu melakukan kajian terhadap materi pembelajaran. Sehingga, penilaian difokuskan pada kemampuan anak dalam menggunakan logika berfikirnya.

Teknik pembelajaran yang dapat digunakan untuk kegiatan mengasosiasi atau menalar antara lain, yaitu:
1. Think, Pair, and Share.
Teknik ini diawali dengan memberikan kesempatan siswa untuk berfikir secara individu. Selanjutnya, hasil pemikiran tersebut didiskusikan dengan teman sebangku. Hasil dari diskusi ini kemudian disampaikan didepan kelas. 
2. Analogi logis.
Teknik ini digunakan untuk mempermudah pengkajian terhadap suatu materi pembelajaran. Materi pembelajaran yang sulit diimajinasikan atau direnungkan, dianalogikan dengan menggunakan materi lain. Misalnya, untuk menkaji pembentukan awan, siswa bisa diajak untuk menganalogikannya dengan orang merebus air. Hasil analogi tersebut mampu mempermudah penalaran siswa terhadap proses pembentukan awan.


Senin, 27 Maret 2017

Teknik Pembelajaran untuk Kegiatan Mengumpulkan Informasi

Tahap ketiga dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah kegiatan mengumpulkan informasi. Pada kegiatan ini, siswa dituntut untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang materi pembelajaran. Informasi ini berguna untuk menjawab pertanyaan yang telah tersusun pada kegiatan kedua. Informasi ini dapat diperoleh dari beberapa sumber. Sumbernya dapat berasal dari buku, dokumentasi, maupun hasil dari percobaan/eksperimen. Merujuk pada sumber yang disebutkan terakhir, kegiatan mengumpulkan informasi ini juga sering disebut sebagai kegiatan mencoba.
Kegiatan mengumpulkan informasi / mencoba dapat melatih siswa untuk terbuka terhadap informasi. Selain itu, kegiatan ini juga dapat melatih siswa dalam mencari sumber informasi yang relevan. Tambahan pula, siswa bisa dilatih untuk dapat melakukan percobaan atau eksperimen dengan metode yang benar sesuai dengan kaidah mata pelajaran yang diberikan.
Pada kegiatan mencoba / mengumpulkan informasi, teknik pembelajaran yang dapat digunakan antara lain :
1. Respon literatur.
Teknik ini dilakukan dengan cara mengumpulkan berbagai sumber bacaan. Bacaan bisa berupa jurnal, buku teks, peta, dan sebagainya. Bacaan-bacaan tersebut kemudian dipilah untuk mendapatkan sumber infprmasi sesuai dengan tema pembelajaran.
2. Kerja laboratorium.
Teknik ini dilakukan untuk kegiatan percobaan, Kegiatan ini biasa dilakukan untuk mapel-mapel ilmu pasti. Meskipun demikian, mapel-mapel sosial juga mampu menggunakan laboratorium untuk kegiatan mengumpulkan informasi.
3. Pembelajaran model.
Teknik ini menggunakan sumber pembelajaran yang berupa seseorang dengan kriteria tertentu. Kriteria itu dapat dilihat dari profesinya, keahliannya, maupun dari latarbelakangnya. Orang tersebut  berguna untuk memberikan informasi yang dibutuhkan untuk pembelajaran.

Selasa, 21 Maret 2017

Teknik pembelajaran untuk kegiatan menanya

Kegiatan menanya merupakan salah satu tahapan pada pembelajaran saintifik. Kegiatan ini bertujuan untuk membuat daftar pertanyaan yang berdasarkan pada hasil kegiatan mengamati. Daftar pertanyaan yang dihasilkan akan dijawab pada tahapan selanjutnya yaitu tahapan mengumpulkan informasi.
Pada kegiatan menanya, teknik pembelajaran yang bisa dilakukan guru meliputi:
1. Secarik kertas.
Teknik secarik kertas dilakukan dengan cara meminta siswa menuliskan pertnyaan pada selembar kertas. Daftar pertanyyan kemudian dibacakan atau ditulis di papan tulis. Selanjutnya, daftar pertanyaan tersebut diseleksi bersama-sama sehingga menghasilkan pertanyaan yang lebih rinci. Teknik pembelajaran ini efektif dilakukan bagi siswa yang belum terbiasa mengajukan pertanyaan. Hal yang paling utama dilakukan guru ialah mengapresiasi segala bentuk pertanyaan dari siswa. Semakin baik apresiasi maka semakin berani siswa mengajukan pertanyaan yang bermutu.
2. K,W,L.
K,W,L merupakan singkatan dari kalimat What I Know, What I Want to Know, dan What I Learn. Teknik ini dilakukan dengan cara membagi papan tulis menjadi tiga. Papan tulis pertama bernama What I Know, yang kedua bernama What I Want to Know, dan ketiga ialah What I Want to Learn. Siswa nanti akan bergiliran mengorganisir pengetahuan mereka berdasarkan tema pembelajaran yang ada. Pada teknik K,W,L, daftar pertanyaan akan berasal dari papan tulis yang bernama what i want to learn.
3. Melengkapi kata tanya.
Penelitian terhadap suatu masalah selayaknya berasal dari kata tanya What (apa), Where (dimana), When (kapan), Why (mengapa), Who (oleh siapa), dan How (bagaimana). Kata tanya tersebut bisa disingkat menjadi 5W+1H. Teknik ini dilakukan dengan cara menuliskan keenam kata tanya tersebut ke papan tulis. Selanjutnya secara bersama-sama dilengkapi sesuai materi yang akan dipelajari.

Senin, 20 Maret 2017

Teknik Pembelajaran Untuk Kegiatan Mengamati

Tahap pertama pada pembelajaran saintifik adalah kegiatan mengamati. Pada kegiatan ini, siswa diberi kesempatan untuk mengamati permasalahan yang bisa digunakan untuk kegiatan belajar. Hasil akhir kegiatan ini adalah topik permasalahan yang selanjutnya akan dipelajari oleh siswa. Dampak pengiring dari kegiatan ini adalah siswa mampu memiliki kemampuan dalam mencari permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, siswa lebih peka terhadap permasalahan kehidupan.
Pada kegiatan mengamati, fokus utama pembelajaran ialah mencari sumber-sumber permasalahan sebanyak-banyaknya. Sumber-sumber tersebut bisa berupa berita dari media masa, pengalaman pribadi siswa, atau mungkin pengalaman yang dialami bersama-sama. Selain itu, kegiatan mengamati juga dapat digunakan untuk membatasi materi pembelajaran yang bisa dikaji dalam pembelajaran.
Teknik pembelajaran yang bisa digunakan pada kegiatan mengamati antara lain, yaitu:
1. Brainstorming.
Brain storming merupakan teknik pembelajaran yang bisa memunculkan banyak permasalahan sebagai materi pembelajaran. Brainstorming merupakan salah satu bentuk diskusi yang memberikan kesempatan setiap orang untuk mengemukakan pendapatnya. Pendapat yang terkumpul pada kegiatan ini bisa menjadi sumber materi pembelajaran.
2. Menonton video.
Video merupakan salah satu media yang bersifat audio visual. Video dapat memiliki berbagai macam tayangan. Film dokumenter, rekaman berita, pertunjukan drama, pertunjukan seni bisa digunakan untuk kegiatan mengamati. Tayangan tersebut bisa menjadi rujukan materi pembelajaran yang bisa dibahas.
3. Observasi lapangan.
Observasi lapangan merupakan kegiatan yang paling efektif dalam kegiatan mengamati. Namun, kegiatan ini memang membutuhkan tenaga, waktu, dan biaya yang besar.

Sabtu, 18 Maret 2017

Tips Menulis di Papan Tulis bagi Guru

Mengajar menggunakan papan tulis merupakan aktivitas kuna yang bertahan hingga sekarang. Sehebat apapun guru dalam menyiapkan media pembelajaran, pasti suatu saat akan menggunakan papan tulis ketika mengajar. Alasannya, papan tulis merupakan alat yang luwes dalam melakukan pembelajaran. Bahkan, seorang guru bisa mengajar dengan hanya memakai alat berupa alat tulis serta papan tulis saja. Namun, sebaiknya hal ini tidak dilakukan oleh guru yang profesional. 

Penggunaan papan tulis bisa menjadi alternatif terhadap materi pembelajaran yang sifatnya insidental. Misalnya, ketika seorang murid mengajukan pertanyaan yang harus dijawab guru pada saat itu juga. Seorang guru pasti menjawab pertanyaan itu melalui papan tulis. Penggunaan papan tulis sebagai alat untuk menyampaikan materi memang boleh dilakukan tetapi variasi penggunaan alat lain juga perlu.

Agar seorang guru mampu mengajar dengan baik menggunakan media papan tulis, ada beberapa tips yang bisa dilakukan. Berikut ini adalah tips menggunakan papan tulis untuk mengajar.

1.  Pasang papan tulis pada tempat yang sesuai. 
Papn tulis harus dipasang di tempat yang tepat. Papan tulis tidak boleh dipasang pada tempat yang terlalu gelap atau terlalu terang. Papan tulis juga harus dipasang mengikuti tinggi guru dan siswa. Lebih baik lagi jika papan tulis bersifat portabel. Artinya, mudah dipindah-pindah dan disesuaikan letak tingginya.

2. Kenali jenis papan tulis yang digunakan.
Ada papan tulis yang permukaannya licin dan ada papan tulis yang permukaannya kasar. Papan tulis yang memiliki permukaan licin digunakan untuk menulis dengan memakai spidol. Papan tulis yang permukaannya kasar, digunakan untuk menulis dengan memakai kapur. 

3. Jagalah kebersihan papan tulis.
Kebersihan papan tulis harus selalu dijaga. Semua bekas tulisan harus dihapus secara bersih. Jika bekas tulisan tidak dihapus dengan bersih maka tulisan yang baru tidak bisa dibaca dengan jelas. Jika memang papan tulis sudak tidak bisa bersih sempurna, perlu diganti dengan yang baru.

4. Pilih alat tulis yang bermutu baik.
Kapur tulis yang bermutu baik memiliki beberapa sifat.  Kapur tulis yang baik tidak mudah patah, tidak mengandung kerikil, tidak berbau, dan tidak menimbulkan banyak debu. Spidol yang bermutu baik memiliki sifat tidak mudah meluber, mudah diisi ulang, tidak gampang tumpul, dan tinta dapat mengalir lancar. Baik spidol maupun kapur tulis sebaiknya memakai bahan yang tidak beracun dan tidak berbahaya.

5. Variasikan warna alat tulis.
Pemilihan warna akan menentukan daya tangkap siswa terutama siswa yang bertipe visual. Pemilihan warna yang tepat akan memperjelas materi pembelajaran.

6. Perhatikan arah gerakan menulis.
 Apabila papan tulis melebar ke samping, maka guru perlu membagi beberapa bidang tulisan. Papan tulis bisa dibagi menjadi dua hingga tiga bagian dengan cara menuliskan garis vertikal pada papan tulis. Bagian yang pertama ditulis adalah bagian kanan.

7. Perhatikan gerak tubuh saat menulis.
Pada saat menulis pada papan tulis, arah langkah kaki guru mengikuti arah tulisan dan gerakan tangan. Hal ini bertujuan untuk meluruskan arah tulisan sehingga tidak naik tidak turun.
8. Hindari berbicara saat menulis.
Meskipun guru bisa melakukan pekerjaan ganda dalam satu waktu, sebaiknya hindari menulis sambil berbicara. Termasuk menghindari menulis sambil menerangkan apa yang ditulis. Hal ini berpotensi mengurangi konsentrasi siswa. Siswa yang sifatnya visionari terpaksa berkonsentrasi mendengarkan. Sebaliknya, siswa yang auditori dipaksa melihat papan tulis.
9. Perhatikan variasi huruf. 
Pemakaian huruf sebaiknya bervariasi. Ada kalanya menulis dengan ukuran lebih besar, ada kalanya menulis dengan ukuran kecil. Namun, huruk terkecil harus mampu dibaca siswa yang duduk paling belakang. Selain memakai variasi ukuran, bisa juga dilakukan variasi jenis huruf. Ada kalanya menulis sambung, adakalanya menulis huruf cetak.

Rabu, 15 Maret 2017

Pendekatan Saintifik untuk IPS, Mengapa Tidak?

Akhir-akhir ini, masyarakat beranggapan bahwa sekolah merupakan tempat untuk mencetak calon tenaga kerja. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal itu. Namun, jika paradigma itu yang kita pakai, apa bedanya sekolah dengan lembaga kursus? Kalau seandainya alasan menjadikan sekolah sebagai lembaga penyiap calon tenaga kerja adalah karena kita mengenal sekolah vokasi, Bukankah sekolah vokasi diberikan setelah program wajib belajar 12 tahun?
Tulisan ini tidak bertujuan untuk membahas polemik yang ada di atas. Paragraf diatas hanya sebagai bahan kontemplasi bagi guru maupun para pembaca sekalian. Boleh dijawab sendiri atau didiskusikan, tetapi dimohon untuk tidak menuliskannya dalam kolom komentar. Topik yang akan dibahas pada tulisan ini ialah tentang pembelajaran mapel IPS dengan pendekatan saintifik. Topik ini dipilih karena selama ini sebagian masyarakat menganggap bahwa IPS hanya sedekar wawasan, bukan ilmu pengetahuan (sains). Akibatnya, wajar saja jika banyak guru yang tidak percaya diri untuk menerapkan pendekatan saintifik dalam mengajar IPS.
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang sudah diberikan kepada siswa dari jenjang SD sampai SMA. Pada jenjang SD dan SMP, mata pelajaran IPS merupakan sebuah mapel terpadu.  Pada jenjang SMA/MA, mata pelajaran ini akan terbagi menjadi beberapa mata pelajaran yang merupakan cabang-cabang dari ilmu sosial. Tambahan pula, tidak semua cabang-cabang ilmu sosial itu diberikan secara lengkap. Pada jurusan IPS, ilmu sosial yang dijadikan sebagai mata pelajaran meliputi : Geografi, Ekonomi, Sejarah, dan Sosiologi. Sementara itu, Jurusan IPA, Bahasa, dan Agama hanya memperoleh mata pelajaran Sejarah saja. Pada tulisan ini, sementara hanya membahas pembelajaran ilmu-ilmu cabang IPS pada jurusan IPS jenjang SMA/MA.
Pendekatan saintifik adalah pendekatan pembelajaran yang mendorong siswa untuk dapat membangun pengetahuan mereka sendiri dengan menggunakan metode-metode ilmiah. Metode ilmiah selama ini identik dengan ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu tekhnologi. Namun, bukan berarti metode ilmiah hanya dimiliki oleh dua macam ilmu tersebut. Ilmu-ilmu sosial juga memiliki metode-metode ilmiah dalam membangun pengetahuan tentang objek kajiannya. Fakta ini harus menjadi pegangan setiap guru bahwa ilmu-ilmu sosial memiliki metode ilmiah, sehingga mengajarkan IPS dengan pendekatan saintifik adalah hal yang realitis.
Mata pelajaran-mata pelajaran IPS sebenarnya memiliki sebuah keuntungan untuk diajarkan dengan pendekatan saintifik. Keuntungan itu ialah kemudahan mencari materi yang bisa digunakan pada saat kegiatan mengamati. Permasalahan-permasalahan manusia yang merupakan materi dari mapel IPS dapat dijumpai hampir setiap hari. Koran, televisi, dan pengalaman langsung merupakan beberapa sumber yang memuat materi yang bisa digunakan untuk kegiatan mengamati pada pendekatan saintifik.
Kehidupan siswa yang selalu bersinggungan dengan permasalahan manusia dapat memberikan keuntungan bagi penerapan pendekatan saintifik pada pembelajaran IPS. Siswa akan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap materi-materi IPS yang bersinggungan dengan dirinya. Jika seorang guru bisa mengelola rasa ingin tahu siswa tersebut maka siswa tentu sangat mudah membuat pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan materi IPS. Hal ini tentu menjadi kemudahan dalam kegiatan menanya dalam pendekatan saintifik.
Pada saat kegiatan mencari informasi, pendekatan saintifik untuk mapel IPS memiliki sebuah tantangan yang cukup berarti. Kegiatan mencari informasi memang bisa dilakukan di dalam lingkungan sekolah. Siswa bisa menjadikan kehidupan manusia di lingkungan sekolahnya sebagai sumber informasi. Akan tetapi, lingkungan sekolah bersifat terbatas. Materi yang bisa diambil tidak dapat memenuhi seluruh tema atau topik pembelajaran IPS. Namun, permasalahan ini sebenarnya masih memiliki jalan keluar. Pada kegiatan mencari informasi, tidak ada tuntutan kepada siswa untuk mencari informasi langsung dari manusia. Siswa masih bisa mencari informasi dari perpustakaan. Peran perpustakaan dalam menyediakan buku-buku penunjang pembelajaran menjadi sangat vital bagi penerapan pendekatan sainttifik pada mapel IPS. Semakin lengkap buku atau referensi yang disediakan di perpustakaan maka semakin mendukung siswa dalam kegiatan mencari informasi.
Tantangan yang bisa menjadi kendala bagi penerapan pendekatan saintifik untuk mapel IPS yaitu permasalahan saat kegiatan penyajian hasil penelitian. Tantangan yang muncul saat kegiatan ini adalah paradigma guru yang menganggap bahwa IPS belum bisa menghasilkan hasil penelitian yang cukup konkret. Namun, selayaknya paradigma ini harus dibuang jauh-jauh. Pada pembelajaran IPS sebenarnya masih bisa menghasilkan hasil-hasil yang konkret. Poster, pamflet, majalah dinding bisa menjadi contoh hasil konkret yang bisa dihasilkanpada saat pembelajaran IPS dengan pendekatan saintifik. Jika dibandingkan dengan rumpun ilmu lain, mungkin karya publikasi tersebut masih dianggap tidak memiliki arti. Namun, bukankah banyak perang, perdamaian, hingga revolusi yang ada di dunia terjadi karena karya-karya publikasi ini? Semua tentu hasil dari penelitian dan pemikiran dalam sudut pandang IPS. Sehingga, seorang guru harus mampu memberikan apresiasi terhadap hasil penelitian yang dilakukan oleh siswa. Bisa jadi, hasil karya siswa bisa mengubah pandangan publik terhadap suatu hal.

 

Senin, 13 Maret 2017

Sarana Pendukung Pembelajaran Saintifik

Penerapan K-13 di sekolah memang belum sepenuhnya sesuai dengan harapan. Salah satu faktornya ialah ketersediaan sarana pendukung pembelajaran yang masih minim. Fasilitas yang telah dimiliki sekolah belum mampu menunjang penarapan K-13 yang menggunakan pendekatan saintifik.

Pendekatan saintifik bertujuan untuk melatih siswa menjadi peneliti. Siswa akan terlatih untuk membangun pengetahuannya sendiri melalui hasil penelitian. Oleh karena itu, fasilitas-fasilitas yang menunjang kegiatan penelitian siswa perlu dilengkapi oleh sekolah.Fasilitas yang menunjang penelitian siswa yang wajib disiapkan oleh sekolah guna penerapan pendekatan saintifik yaitu : Perpustakaan, Laboratorium, dan Ruang Pameran. 

Pada pembelajaran dengan pendekatan saintifik, perpustakaan berguna untuk menyediakan sumber-sumber belajar. Sumber-sumber belajar ini dapat digunakan siswa untuk mencari contoh permasalahan yang bisa digunakan untuk kegiatan mengamati. Perpustakaan juga berguna untuk menyediakan bahan rujukan pada kegiatan mencari informasi. Selain itu, perpustakaan juga bisa memberikan sumber belajar untuk memperkaya teknik analisis maupun metode penalaran yang digunakan siswa pada saat kegiatan mengasosiasi atau menalar.

Jika sekolah ingin menerapkan pendekatan saintifik pada proses pembelajarannya, ketersediaan sumber belajar pada perpustakaan sekolah harus ditingkatkan. Perpustakaan dituntut untuk menyediakan sumber-sumber belajar yang lebih lengkap. Salah satu alternatif yang bisa dilakukan untuk menambah koleksi sumber belajar adalah dengan membangun sebuah perpustakaan elektronik. Biaya pemebelian buku cetak yang terasa terlalu banyak bisa dikurangi dengan pembelian buku digital.

Peran laboratorium pada pembelajaran dengan pendekatan saintifik ialah sebagai sarana pelaksanaan kegiatan mengumpulkan informasi. Salah satu bagian dari kegiatan mengumpulkan informasi adalah eksperimen. Eksperimen hanya dapat dilakukan di laboratorium. Tanpa ketersedian sarana laboratorium, maka siswa akan kesulitan melakukan eksperimen.

Pada prinsipnya, semua kegiatan pembelajaran dengan pendekatan saintifik bermuara pada penyajian hasil penelitian. Hasil penelitian siswa tentu perlu mendapatkan apresiasi. Salah satu apresiasi yang bisa dilakukan oleh sekolah adalah menyediakan ruang pameran. Ruang pameran berfungsi untuk memajang hasil karya siswa yang telah melakukan kegiatan pembelajaran saintifik.

Tips Mengajar Pembelajaran Saintifik

Pembelajaran saintifik merupakan salah satu ciri dari Kurikulum 2013. Pembelajaran saintifik bertujuan agar siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya. Dengan kata lain, ada dua model pembelajaran yang bersinggungan dengan pembelajaran saintifik, yaitu model inkuiri dan model diskoveri. Kedua model tersebut pada dasarnya sama yaitu bertujuan untuk melatih siswa membangun pengetahuannya sendiri. Perbedaannya, pada model pembelajaran diskoveri, pengetahuan yang akan dibangun siswa sudah diatur sebelumnya oleh guru.  Sebaliknya, pada pembelajaran inkuiri, pengetahuan yang akan dibangun siswa tidak dibatasi oleh guru sehingga siswa boleh membangun pengetahuannya seluas-luasnya.

Pada pembelajaran saintifik, model pembelajaran yang digunakan boleh inkuiri maupun diskoveri. Namun, lebih aman jika model yang digunakan adalah model pembelajaran diskoveri. Pembelajaran diskoveri dinyatakan lebih aman karena pada pembelajaran diskoveri, tujuan pembelajaran dapat diarahkan. Siswa tidak akan belajar di luar materi pembelajaran. Artinya, siswa masih berada pada rambu-rambu Kompetensi Dasar.

Terlepas dari model inkuiri atau diskoveri yang akan digunakan untuk pendekatan saintifik, pembelajaran saintifik dapat menjadi sulit untuk dilaksanakan. Pembelajaran saintifik sulit dilaksanakan terutama dengan alasan bahwa seorang guru jarang atau belum pernah sama sekali mengajar dengan model diskoveri/inkuiri. Tentu hal ini akan menjadi penghalang dalam penerapan pembelajaran saintifik. Namun, berikut ini adalah tips yang bisa dilakukan agar pembelajaran saintifik bisa diterapkan.

1. Memilih teknik mengajar yang tepat.
Pada pembelajaran saintifik, terdapat lima kegiatan utama, yaitu: mengamati, menanya, mengasosiasi, menalar, dan menyajikan hasil. Setiap kegiatan tersebut memiliki teknik pembelajaran masing-masing. Pada kegiatan mengamati, teknik pembelajaran yang bisa dilakukan antara lain : menonton video, membaca surat kabar, menceritakan pengalaman pribadi. Intinya, teknik yang digunakan pada kegiatan mengamati harus dapat memberi gambaran siswa tentang apa yang akan dipelajari. Pada kegiatan menanya, teknik pembelajaran yang bisa dilakukan adalah teknik secarik kertas, KWL (what I Know, Want to Know, Learn), atau brainstorming. Intinya, pada kegiatan menanya, teknik yang digunakan dalam pembelajaran harus dapat membuat siswa bertanya dengan pertanyaan yang baik. Pada kegiatan mengumpulkan informasi, teknik yang dapat digunakan yaitu: diskusi, studi dokumentasi, atau kunjungan perpustakaan. Intinya, pada kegiatan mengasosiasi teknik yang digunakan harus mampu memberi kesempatan kepada siswa untuk mencari sumber belajar. Pada kegiatan menalar/mengasosiasi, teknik yang bisa digunakan yaitu: teknik analogi, jika-maka, eksperimen, dan sebagainya. Intinya, pada kegiatan ini teknik yang digunakan harus memberikan kesempatan berfikir dan menganalisa hal yang dipelajari siswa. Pada kegiatan menyajikan informasi, teknik yang digunakan meliputi: membuat poster, presentasi, atau pameran. Intinya, pada kegiatan ini, teknik pembelajaran yang digunakan harus mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk menampilkan karyanya dan sekaligus melakukan penialaian pembelajaran,

2. Membuat lembar kerja siswa sendiri.
Lembar kerja siswa pada pembelajaran saintifik hendaknya memuat tiga hal. Pertama, hal yang bisa diamati siswa. Contohnya, artikel bencana alam dari koran, foto kerusakan lingkungan, peta persebaran hewan, dan sebagainya. Hal-hal tersebut tentu menjadi bahan ketika kegiatan mengamati dan pada akhirnya dilanjutkan dengan kegiatan pembelajaran lainnya. Kedua, lembar kerja siswa juga memuat contoh penelitian. Dengan adanya contoh penelitian, siswa akan mengerti bagaimana langkah kerja yang harus dilakukan untuk melakukan penelitian. Ketiga, lembar kerja siswa harus memuat evaluasi. Evaluasi yang dimaskud adalah evaluasi yang bertujuan untuk menilai kinerja siswa dalam melakukan kegiatan saintifik.
Lembar kerja siswa  hendaknya dibuat oleh guru. Alasannya, hanya guru yang memahami kondisi siswa secara langsung.  Selain itu, belum banyak penulis buku yang menulis lembar kerja siswa sesuai dengan harapan pembelajaran saintifik.

3. Memperkuat dasar-dasar ilmu penelitian.
Guru harus bisa memberi contoh, termasuk pada pembelajaran saintifik. Guru harus bisa memahami dasar-dasar ilmu penelitian dengan baik. Hal ini bertujuan agar guru dapat membimbing siswa dalam melakukan penelitian yan merupakan inti dari pembelajran saintifik.

4. Tidak ada yang salah dalam belajar.
Seorang guru harus terus berlatih agar bisa menjadi guru yang mengajari, memotivasi, bahkan menginspirasi.

Mengapa Takut dengan K-13??

Jika kita membaca judul artikel ini mungkin terdengar agak satire. Yap, bukan maksud menyindir, tapi itulah realita yang terjadi. Banyak guru yang mengeluh dan seakan takut terhadap penerapan K-13 di sekolah. Meskipun sebenarnya ketakutan itu lebih karena ketidaksiapan kita dalam menerima perubahan. Kita sudah terlalu nyaman dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya, yang esensinya tidak mengalami perubahan meskipun namanya berubah-ubah. Esensi pembelajaran kemudian berubah drastis saat K-13 mulai diterapkan. 

K-13 menitikberatkan pada pemakaian pendekatan pembelajaran, yaitu pendekatan saintifik.Meskipun kata saintifik tersebut belum terdapat pada kamus, tetapi kata itulah yang menjadi "merk dagang" K-13. Namun, sungguh disayangkan, "merk dagang" tersebut ternyata tak laku ketika "dijual" kepada sebagian besar guru (terutama yang sudah profesional). Pendekatan saintifik tidak pernah terdengar pada kurikulum-kurikulum sebelumnya. Namun, sebenarnya "merk dagang" inilah yang menarik bagi sebagian guru (atau mungkin hanya saya saja). 

Penerapan pendekatan saintifik ibarat seperti semangat Renaisans yang membawa masyarakat Eropah menuju Aufklarung. Penerapan pendekatan saintifik pada K-13 bak seperti berubahnya masa dimana masyarakat Eropa yang semula hanya mengikuti "doktrin" pada buku berubah menjadi masyarakat Eropa yang berfikir terbuka dan lebih kritis. Pada saat itulah, titik awal kemajuan bangsa Eropa yang bertahan hingga sekarang.

Pada kurikulum-kurikulum sebelumnya, pembelajaran layaknya pendoktrinan. Buku pelajaran dan guru adalah sumber pengetahuan yang utama. Murid tidak diberi kesempatan untuk membangun pengetahuannya sendiri, melainkan harus dibangun dengan cara membaca buku pelajaran dan mendengarkan guru.Hal ini tidak berlaku pada pendekatan saintifik.

Pendekatan saintifik bertujuan untuk melatih murid dalam membangun pengetahuannya sendiri. Murid diberi kebebasan untuk lebih peka terhadap lingkungannya melalui kegiatan mengamati. Murid diberi kebebasan untuk berfikir kritis melalui kegiatan menanya. Murid diberi kelonggaran untuk mencari sumber pengetahuan baru melalui kegiatan mengumpulkan informasi. Murid diberikan kebebasan untuk mengembangkan logika melalui kegiatan menalar/mengasosiasi. Murid diberikan kesempatan untuk menunjukkan hasil pemikirannya melalui kegiatan menyajikan informasi. Kegiatan-kegiatan itulah yang diharapkan mampu membangun generasi Bangsa Indonesia menjadi lebih cerdas.

Selain pendekatan saintifik, hal yang menarik pada penerapan K-13 ialah penerapan pendidikan berbasis karakter. Pendidikan berbasis karakter merupakan bentuk upaya pemerintah dalam memperbaiki karakter generasi bangsa yang sudah mulai hancur. Pendidikan karakter memang perlu dilakukan untuk mempersiapkan generasi bangsa menghadapi pola penjajahan negara asing yang bersifat lebih halus, yaitu penjajahan moral. 

Meskipun saya sangat setuju penerapan K-13 yang menggunakan pendekatan saintifik dan berbasis karakter, tetapi ada beberapa catatan yang bisa saya berikan kepada konsep K-13. Pertama, penerapan pendekatan saintifik hendaknya mulai diberikan kepada jenjang sekolah SD kelas 4 hingga kelas XII SMA. Alasannya, anak kelas 1 s.d. 3 SD dirasa belum siap menerima pendekatan saintifik. Mereka baru pada tahap awal belajar. Jika diibaratkan, mereka baru membuat sebuah sendok untuk dapat mengambil sup pengetahuan. Dengan kata lain, mereka masih dalam tahap mempelajari bahasa, menulis, dan berhitung yang merupakan kunci dari ilmu pengetahuan. 

Kedua, pembelajaran tematik yang selama ini diberikan pada murid SD sebaiknya diberikan kepada murid SMA. Seperti yang kita tahu, pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang membutuhkan pengetahuan yang lengkap. Artinya, pembelajaran tematik bisa dilakukan apabila murid sudah mendapatkan pelajaran yang sifatnya lebih khusus. Misalnya, jika pembelajaran memiliki tema lingkungan hidup maka siswa harus mendapatkan intisari dari cabang-cabang ilmu seperti biologi, geografi, maupun ekonomi. Sehingga, siswa dapat mempelajari tema lingkungan hidup dengan menyatukan pandangan ilmu biologi, geografi, maupun ekonomi. 

Ketiga, karaker yang akan dibentuk pada diri siswa harus menyesuaikan dengan mata pelajaran yang bersangkutan. Misalnya, karakter yang dibentuk pada pelajaran ekonomi meliputi : sikap hemat, pengelolaan uang, pandai membuat alternatif, dan sebagainya. Misalnya, lagi, karakter yang dibentuk pada pelajaran biologi meliputi : selalu menjaga kebersihan, mencintai makhluk hidup, merawat lingkungan, dan sebagainya. 


Ceramah Sudah Ketinggalan Zaman?

Salah satu teknik pembelajaran adalah ceramah. Ceramah dilakukan dengan cara mengkomunikasikan materi pembelajaran secara lisan. Terkadang dalam teknik pembelajaran ceramah terdapat kegiatan non lisan, antara lain : membuat sketsa, memperagakan dengan bahasa tubuh, menunjukkan ekspresi, dan sebagainya.  Meskipun demikian, esensi ceramah tetaplah sama, yaitu komunikasi secara lisan. Dengan kata lain, ceramah bersifat satu arah. Materi pembelajaran hanya dikomunikasikan dari guru ke murid, tanpa ada umpan balik dari murid ke guru. 

Tak bisa dipungkiri bahwa ceramah merupakan teknik pembelajaran yang paling sering digunakan oleh seorang guru. Salah satu alasan mengapa ceramah masih menjadi teknik pembelajaran yang universal yaitu karena teknik ini bisa dilakukan tanpa persiapan. Tetapi, alasan ini sebenarnya berlaku relatif. Tidak semua guru bisa melakukan teknik ceramah dengan baik. Hanya guru dengan kecerdasan verbal dan daya ingat yang mumpuni saja yang bisa melakukan teknik ceramah dengan persiapan minim.  Namun, bagi seorang guru yang memiliki kecerdasan verbal yang baik serta daya ingat yang mumpuni, mengajar dengan teknik ceramah bisa menjadi sangat mudah dan hasilnya bagus.

Ceramah tidak melulu berisi materi ajar. Ceramah dapat diselingi dengan  lelucon, pengalaman pribadi, maupun motivasi. Lelucon perlu diberikan saat ceramah dengan tujun untuk mengurangi "ketegangan" atau bahkan kebosanan saat pembelajaran. Motivasi perlu diberikan saat ceramah dengan tujuan untuk memberikan semangat bagi murid. Pengalaman pribadi perlu diberikan saat ceramah dengan tujuan untuk memberikan keteladanan bagi murid. Tentu saja, alangkah lebih bagus jika ketiga hal tersebut berkaitan dengan materi ajar yang diberikan.

Teknik ceramah yang digunakan pada pembelajaran bukanlah hal yang baru. Teknik ini merupakan teknik pembelajaran pertama yang dilakukan pada sekolah formal. Meskipun demikian, teknik ceramah bukan berarti teknik pembelajaran kuna yang perlu ditinggalkan. Beberapa variasi teknik ceramah bisa menjadi pilihan apabila teknik ceramah sudah dianggap kuna atau terlalu sering digunakan.  

Salah satu variasi teknik ceramah yang selama ini telah dikenal adalah berdongeng (story-telling). Berdongeng merupakan teknik ceramah yang sering digunakan untuk mengkomunikasikan sebuah karya sastra fiksi. Berdongeng dapat dilakukan dengan cara menambah ekspresi saat membacakan karya sastra tersebut. Bahkan, berdongeng sering diikuti dengan perubahan warna suara untuk memerankan tokoh yang ada. Berdongeng dapat menggunakan alat bantu. Buku cerita, boneka, dan kostum sering digunakan oleh seorang guru dalam melakukan teknik berdongeng. 

Teknik berdongeng cocok untuk murid-murid usia dini. Mereka dapat menjadi terhibur dan tertarik dengan materi pembelajaran yang diajarkan dengan teknik berdongeng. Materi ajar yang bersifat pengembangan afektif dapat tersalurkan dengan baik melalui teknik ini.

Selain berdongeng, teknik pembelajaran yang juga merupakan variasi dari teknik ceramah adalah teknik ceramah tanya jawab. Teknik ceramah tanya jawab merupakan teknik ceramah yang lebih interaktif. Komunikasi tidak hanya berasal dari guru ke murid tetapi juga terdapat komunikasi dari murid ke guru. Ceramah tanya jawab berguna untuk mendapatkan umpan balik dari murid. Pada ceramah tanya jawab, diharapkan murid memberikan umpan balik yang berupa pertanyaan, kejelasan dalm menerima pengajaran, tanggapan siswa terhadap pelajaran, dan sebagainya. Selain itu, manfaat dari teknik ini ialah melatih murid untuk berani mengemukakan pendapat, pertanyaan, usulan, dan sebagainya.

Kedua variasi teknik pembelajaran ceramah tersebut dapat digunakan sebagai variasi teknik pembelajaran. Pembelajaran dengan teknik ceramah memang terasa membosankan apabila tidak dikembangkan sesuai dengan kebutuhan murid. Meskipun demikian, bukan berarti guru harus meninggalkan teknik ceramah. Teknik pembelajaran ceramah perlu diberikan pada saat yang tepat. Tugas seorang guru ialah mencari kapan saat ia harus menggunakan metode ceramah dan kapan saat ia harus memakai teknik pembelajaran lain.

Sabtu, 11 Maret 2017

Gestur dalam Mengajar

Gestur merupakan gerak anggota tubuh yang digunakan untuk menunjukkan sebuah perasaan tertentu. Gestur seorang guru  memberikan arti penting dalam pembelajaran. Apalagi jika pembelajaran memakai teknik ceramah, maka gestur seorang guru akan menentukan sukses tidaknya materi pembelajaran akan tersampaikan. 
Gestur seorang guru menentukan berapa besar perhatian siswa terhadap isi dari ceramah pembelajaran. Sehingga, isi dari materi ceramah pembelajaran akan menentukan gestur tubuh apa yang perlu ditampilkan oleh seorang guru. Berikut ini adalah contoh gestur yang bisa di tampilkan seorang guru saat memberikan ceramah pembelajaran.

1. Gestur saat menginginkan perhatian.
Pada saat membuka ceramah pembelajaran, seorang guru harus mendapatkan perhatian penuh dari seluruh siswa dalam satu hentakan. Pada saat itu, gestur yang tepat adalah dengan berdiri tegak dan gerakan tangan yang semula terbuka kemudian melakukan tepukan kecil satu kali. Tepukan tangan dilakukan tepat di bagian depan dada. Suara tepukan kecil tersebut bisa menjadi alat pengalih perhatian siswa dari hal-hal di luar pembelajaran. Gestur ini juga bisa dilakukan saat guru menarik sebuah kesimpulan dari ceramah yang dilakukannya. 
2. Gestur saat melakukan tanya jawab.
Saat mendengarkan pertanyaan dari siswa, tangan hendaknya bersedekap sambil sesekali salah satu tangan memegang dagu. Gestur ini menunjukkan bahwa guru memang benar-benar sedang memerhatikan pertanyaan siswa.
3. Gestur saat menjelaskan suatu hal.
Saat menjelaskan suatu hal, gestur yang dilakukan guru harus bersifat luwes. Sesekali kedua tangan terbuka sambil digerakkan sesuai dengan intonasi. Sesekali pula satu tangan ke belakang dan satu tangan terbuka sambil begerak-gerak sesuai intonasi.
4. Gestur saat memberikan motivasi.
Gestur yang tepat saat memberikan motivasi atau mengajak untuk melakukan sebuah aktivitas pembelajaran adalah dengan membuka kedua tangan. Gestur ini menunjukkan sikap untuk menerima dan mengajak siswa.

Bagaimana Melatih Siswa Bertanya

Siswa akan termotivasi belajar jika mereka memiliki rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu siswa dapat terwujudkan dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang diungkapkan saat terjadi pembelajaran. Semakin banyak pertanyaan yang diungkapkan siswa maka dapat diduga bahwa rasa ingin tahu siswa itu semakin tinggi. Dengan kata lain, motivasi belajar siswa juga semakin tinggi. Akan tetapi, pertanyaan yang diungkapkan oleh siswa harus berkualitas baik. Kualitas ini dapat dinilai berdasarkan isi pertanyaan dan struktur kalimat pertanyaan yang diungkapkan. Pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi memiliki beberapa ciri, antara lain:

a. Pertanyaan berhubungan dengan materi pelajaran.
Pertanyaan yang diungkapkan siswa harus berkaitan dengan materi pelajaran. Jika tidak berhubungan dengan materi pembelajaran, guru dapat meminta siswa untuk bertanya ke guru mata pelajaran lain yang sesuai dengan  pertanyaan itu.

b. Pertanyaan berasal dari pengalaman siswa.
Saat siswa menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan pengalamannya, maka itu menunjukkan jika siswa selalu berfikir dan peka terhadap keadaan sekitarnya. Pengalaman siswa saat menonton berita di televisi, membaca surat kabar, bepergian ke luar rumah, dan sebagainya, dapat menjadi bahan pertanyaan ketika siswa berada di kelas. Hal ini tentu perlu diapresiasi karena hal ini menunjukkan bahwa dimanapun siswa tersebut berada, dia selalu melakukan proses berfikir.

c. Pertanyaan tidak bersifat retoris.
Pertanyaan yang bisa muncul saat pembelajaran dapat bersifat retoris. Pertanyaan itu sebenarnya sudah terjawab sendiri tanpa perlu ditanyakan kepada orang lain. Jika muncul pertanyaan retoris, ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, siswa tersebut ingin diperhatikan oleh guru. Kedua, guru belum mampu mengajarkan materi dengan jelas sehingga siswa tersebut ingin memperjelas materi pelajaran yang diterimanya.

d. Pertanyaan tidak digunakan untuk menguji kepandaian guru.
Ada satu cara untuk mengetahui apakah pertanyaan dari siswa tersebut diungkapkan untuk menguji kepandaian guru atau tidak, yaitu dengan melakukan umpan balik yang benar. Tidak semua pertanyaan siswa harus dijawab oleh guru. Guru sebaiknya memberi umpan balik kepada siswa, misalnya dengan menugaskan siswa seluruh kelas untuk menjawab pertanyaan itu.

Agar siswa memiliki kebiasaan bertanya dengan baik dan benar, maka perlu diperhatikan beberapa hal. Berikut ini adalah saran yang bisa diberikan agar siswa dapat membuat pernyataan yang berkualitas pada saat pembelajaran.

1. Berfikir kritis adalah kuncinya.
Seorang guru hendaknya selalu memberi contoh untuk berfikir secara kritis. Semakin kritis pemikiran seorang guru dalam menilai suatu hal, maka pemikiran itu akan ditiru oleh murid-muridnya. Semakin murid berfikir kritis, maka semakin banyak pertanyaan yang berkualitas.

2. Mulai dari tertulis hingga spontan.
Ada beberapa faktor seorang murid tidak bertanya saat pembelajaran. Salah satunya ialah rasa malu. Rasa malu bertanya memang tidak bisa dihilangkan secara instan. Namun, hal ini dapat dikurangi sedikit demi sedikit. Siswa perlu dilatih untuk membuat pertanyaan pada selembar kertas. Pertanyaan tersebut kemudian perlu diapresiasi. Jika hal ini dilakukan berulang-ulang, siswa tentu akan semakin mahir dalam bertanya. Pada akhirnya, siswa pun dapat bertanya secara spontan.

3. Jangan pernah mengatakan "saya tidak tahu".
Pengetahuan dan wawasan guru memang ada batasnya, tetapi seorang guru jangan pernah menagatakan " saya tidak tahu". Semakin sering guru mengatakan kata itu, semakin hilang kepercayaan siswa kepada guru tersebut untuk bertanya. Jika memang seorang guru tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan siswa, umpan balik terbaik yang bisa dilakukan adalah menanyakan kembali pertanyaan itu kepada seluruh siswa di kelas dan digunakan sebagai penugasan.

Jumat, 10 Maret 2017

Tips Mengajar Menggunakan Video

Video merupakan salah satu media audio visual. Video dapat digunakan untuk menampilkan film dokumenter, drama, pertunjukkan kesenian, liputan berita, dan sebagainya yang tentu saja tidak ideal jika ditampilkan oleh jenis media lainnya. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan video sebagai media pembelajaran. hal-hal yang harus diperhatikan antara lain :

a. Alat penayang video. 
Video dapat ditampilkan melalui proyektor maupun monitor. Kedua alat tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Proyektor lebih mudah dibawa kemana-mana dibandingkan dengan monitor. Ukuran proyektor juga lebih mudah disesuaikan. Namun, kejelasan tampilan pada monitor lebih baik daripada proyektor. Selain itu, monitor relatif tidak mudah rusak dibandingkan dengan proyektor. 

b. Ruangan belajar.
Pembelajaran menggunakan video sebaiknya dilakukan di dalam ruangan. Ruangan sebaiknya tertutup sehingga tidak ada gangguan cahaya dari luar ruangan. Cahaya dari luar ruangan yang terlalu banyak dapat mengganggu kejernihan tayangan video, terlebih lagi jika alat yang digunakan adalah proyektor. Sisi ruangan yang menampilkan tayangan sebaiknya lebih gelap daripada sisi tempat duduk siswa.
Tempat duduk siswa diatur sedemikian rupa sehingga seluruh siswa dapat melihat tampilan video dengan jelas. Tempat duduk siswa sebaiknya merupakan kursi yang tidak bisa digunakan untuk bersandar. Pengalaman selama ini, duduk bersandar akan membuat siswa menjadi mudah mengantuk. Hal ini tentu akan mengganggu  pelajaran. Selain itu, tempat duduk juga harus terjangkau oleh suara yang dikeluarkan oleh video yang ditampilkan. 

c. Kualitas video
Video pembelajaran harus memiliki kualitas yang bagus. Artinya, sebaiknya file video yang ditampilkan memiliki resolusi tampilan yang bagus. Selain itu, video yang ditampilkan harus memiliki daya tarik tersendiri dari segi tampilan. Warna, tekstur, tata letak, maupun sinematografi dari video pembelajaran harus mampu menarik perhatian siswa.
Video yang ditampilkan juga harus menyesuaikan dengan materi pelajaran. Sebagai contoh, film dokumenter cocok untuk mata pelajaran geografi, fisika, sosiologi, maupun biologi. Whiteboard animation cocok untuk mata pelajaran PKn, ekonomi, maupun matematika. Film drama cocok untuk mengajarkan mata pelajaran bahasa, sejarah, sastra, dan sebagainya. film tutorial cocok untuk mengajarkan mata pelajaran olah raga, seni, dan keterampilan.
Tidak hanya memerhatikan tayangan, pembelajaran menggunakan video juga harus memerhatikan kualitas suara dari video. Suara yang dihasilkan sebaiknya jelas dan sesuai dengan narasi video.

d. Sikap guru

Saat mengajar menggunakan video, guru hendaknya harus memperhatikan beberapa hal. Pertama, guru harus mampu berada pada posisi yang benar. Guru hendaknya berdiri di belakang siswa. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah tayangan video telah mampu dilihat jelas oleh siswa yang paling belakang. Jika guru dibelakang maka siswa akan fokus hanya kepada video saja.
Kedua, guru harus meminta umpan balik dari siswa terhadap video yang ditampilkan. Umpan balik sebaiknya diminta saat tayangan video telah selesai ditampilkan. Umpan balik video dapat dilakukan dengan menggunakan lisan, tulisan, maupun unjuk kerja.



Berlatih Metode Inkuiri



Hasil akhir yang ingin dicapai dalam pembelajaran di sekolah adalah terbentuknya siswa yang mampu belajar sendiri. Salah satu cara untuk membentuk siswa yang mampu belajar sendiri adalah dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri. Inkuiri merupakan model pembelajaran yang membebaskan siswa untuk memperoleh pengetahuan sendiri. Artinya, Inti dari proses pembelajaran inkuiri adalah proses belajar mandiri yang dilakukan oleh siswa.
Model pembelajaran inkuiri memang belum banyak diterapkan oleh guru. Salah satu alasan mengapa model pembelajaran ini jarang digunakan ialah karena inkuiri berlandaskan pada kebebasan siswa dalam membangun  pengetahuannya. Hal ini akan memicu terjadinya perluasan materi pembelajaran yang didapat oleh siswa. Akibatnya, pembelajaran inkuiri dapat menyebabkan pembelajaran keluar dari batas-batas yang telah ditetapkan kurikulum. Tidak jarang kegiatan pembelajaran yang memakai model inkuiri dapat keluar dari kompetensi dan indikator pembelajaran.
Meskipun metode inkuiri memiliki kekurangan, pembelajaran dengan metode inkuiri harus dilakukan dengan tujuan melatih siswa menjadi pembelajar mandiri. Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penerapan model pembelajaran inkuiri. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penerapan model pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut.
A. Semua berawal dari rasa ingin tahu.
Kodrat manusia adalah makhluk yang penuh rasa ingin tahu, begitu pula siswa. Rasa ingin tahu siswa merupakan harta karun paling berharga dalam pembelajaran. Rasa ingin tahu adalah motivasi belajar siswa yang paling tinggi. Semakin banyak siswa ingin tahu maka semakin mudah seorang guru dalam melangsungkan proses pembelajaran dengan model pembelajaran inkuiri.
Saat yang paling tepat dalam merangsang rasa ingin tahu siswa adalah saat apersepsi. Jika selama ini apersepsi selalu memuat presensi siswa dan pembacaan SK-KD, tentu tidak ada rangsangan terhadap rasa ingin tahu siswa. Menayangkan sebuah video, membacakan sebuah dongeng, membawa sebuah benda nyata adalah kegiatan apersepsi yang dapat membantu merangsang rasa ingin tahu siswa. Tayangan, dongeng, atau benda nyata yang mampu menarik rasa ingin tahu siswa antara lain dapat bersifat kontroversial, unik, aneh, maupun langka. Setelah menampilkan hal-hal tersebut, apersepsi baru dilanjutkan dengan membacakan tujuan pembelajaran maupun standar kompetensi yang akan dicapai siswa.
B. Biarkan siswa bertanya.
Jika apersepsi berjalan sukses, siswa akan ramai-ramai mengacungkan tangan mereka untuk bertanya. Jika terjadi hal seperti itu, suasana kelas menjadi riuh sejenak. Guru harus segera memgang kendali untuk menghentikan keriuhan kelas dengan segera menampung pertanyaan dari siswa. Cara menampung pertanyaan siswa ygn paling baik adalah menuliskan seluruh pertanyaan siswa pada papan tulis.
Pada kondisi tertentu, terkadang suasana kelas terlalu hening. Artinya, tidak ada satupun pertanyaan yang muncul dari siswa. Hal ini bisa terjadi karena beberapa sebab, entah itu bahan apersepsi yang kurang menarik, siswa yang kurang percaya diri, bisa juga karena siswa terlalu lelah untuk bertanya dan sebagainya. Jika kelas terlalu hening, ada satu cara yang bisa digunakan untuk memperoleh pertanyaan dari siswa. Cara itu ialah dengan teknik pembelajaran "secarik kertas". Teknik ini dilakukan dengan cara menyuruh siswa untuk membuat pertanyaan dan ditulis di kertas. Kertas yang sudah berisi pertanyaan kemudian dikumpulkan di muka kelas. Pertanyaan-pertanyaan itu lantas dituliskan pada papan tulis.
Papan tulis yang penuh dengan daftar pertanyaan siswa adalah indikator pembelajaran inkuiri mulai pada rel yang benar. Namun, justru kondisi tersebut akan menentukan apakah pembelajaran inkuiri yang akan dilakukan oleh siswa akan keluar dari batas tujuan pembelajaran atau sesuai dengan tujuan pembelajaran. Agar pembelajaran inkuiri tidak keluar batas, guru wajib memilih pertanyaan yang telah ada di papan tulis. Pertanyaan yang bisa digunkan sebagai awal dari pembelajaran inkuiri adalah pertanyaan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Selain itu, pertanyaan itu memungkinkan untuk dijawab oleh siswa. Artinya, pertanyaan tersebut mampu dijawab dengan menggunakan fasilitas dan sumber belajar yang ada.
C. Guru sebagai fasilitator, bukan sumber belajar.
Pembelajaran inkuiri dapat dilakukan jika pertanyaan pembelajaran dipilih dan dijawab sendiri oleh siswa. Siswa perlu diberi kebebasan untuk memilih pertanyaan yang ingin dia jawab berdasarkan daftar pertanyaan yang telah tertulis di papan tulis. Kebebasan yang diberikan ini akan membuat siswa benar-benar ingin menjawab pertanyaan yang dipilihnya.
Pertanyaan yang telah dipilih oleh masing-masing siswa tentu hars dijawab sendiri. Kebebasan dalam mencari sumber belajar, melakukan percobaan, atau melakukan pengamatan perlu diberikan kepada siswa dalam rangka menjawab pertanyaan pembelajaran. Dengan kata lain, pada pembelajaran inkuiri memang perlu didukung oleh fasilitas yang memdahi. Laboratorium, perpustakaan, maupun jaringan internet memang selayaknya harus disediakan agar siswa memperoleh jawaban dari pertanyaan yang dipilihnya. Meskipun demikian, bukan berarti sekolah yang minim fasilitas belajar tidak bisa menerapkan model pembelajaran inkuiri. Semua bergantung pada kreativitas guru dalam mengatasi minimnya fasilitas pembelajaran.
Permasalahan yang paling sering muncul pada kegiatan mencari jawaban dari pertanyaan pembelajaran adalah siswa tidak tahu cara menjawab pertanyaan itu. Saat itulah guru berperan penting. Guru tidak boleh menjawab pertanyaan pembelajaran tersebut secara langsung, tetapi guru harus memberitahukan cara untuk menjawab pertanyaan yang dimiliki siswa. Guru harus menunjukkan metode percobaan apa yang harus dilakukan, sumber apa yang bisa dijadikan rujukan, apa yang harus diamati, dan sebagainya dalam rangka menjawab pertanyaan siswa.
D. Presentasi bukan merupakan hasil akhir.
Jika siswa telah melakukan percobaan, melakukan pengamatan, atau merangkum sumber belajar yang tepat maka siswa tentu akan menjawab pertanyaan pembelajaran. Jawaban tersebut bisa merupakan hasil dari penalaran siswa mapun hasil dari percobaan dan pengamatan yang dilakukan siswa. Jawaban yang dihasilkan tentu harus dipresentasikan.
Presentasi ini tidak hanya bermaksud untuk menarik sebuah kesimpulan, presentasi tersebut merupakan awal dari pembangunan pengetahuan siswa. Pertanyaan pembelajaran yang sama belum tentu menghasilkan jawaban  yang sama antara satu siswa dengan siswa lainnya. Diskusi perlu dilakukan agar jawaban siswa saling melengkapi untuk membangun sebuah pengetahuan yang komprehensif dan lebih luas.