Hasil akhir yang ingin dicapai
dalam pembelajaran di sekolah adalah terbentuknya siswa yang mampu belajar
sendiri. Salah satu cara untuk membentuk siswa yang mampu belajar sendiri
adalah dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri. Inkuiri merupakan model
pembelajaran yang membebaskan siswa untuk memperoleh pengetahuan sendiri.
Artinya, Inti dari proses pembelajaran inkuiri adalah proses belajar mandiri
yang dilakukan oleh siswa.
Model pembelajaran inkuiri memang
belum banyak diterapkan oleh guru. Salah satu alasan mengapa model pembelajaran
ini jarang digunakan ialah karena inkuiri berlandaskan pada kebebasan siswa
dalam membangun pengetahuannya. Hal ini
akan memicu terjadinya perluasan materi pembelajaran yang didapat oleh siswa.
Akibatnya, pembelajaran inkuiri dapat menyebabkan pembelajaran keluar dari
batas-batas yang telah ditetapkan kurikulum. Tidak jarang kegiatan pembelajaran
yang memakai model inkuiri dapat keluar dari kompetensi dan indikator pembelajaran.
Meskipun metode inkuiri memiliki
kekurangan, pembelajaran dengan metode inkuiri harus dilakukan dengan tujuan
melatih siswa menjadi pembelajar mandiri. Namun, ada beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam penerapan model pembelajaran inkuiri. Hal-hal yang harus
diperhatikan dalam penerapan model pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut.
A. Semua berawal dari rasa ingin
tahu.
Kodrat manusia adalah makhluk yang
penuh rasa ingin tahu, begitu pula siswa. Rasa ingin tahu siswa merupakan harta
karun paling berharga dalam pembelajaran. Rasa ingin tahu adalah motivasi
belajar siswa yang paling tinggi. Semakin banyak siswa ingin tahu maka semakin
mudah seorang guru dalam melangsungkan proses pembelajaran dengan model
pembelajaran inkuiri.
Saat yang paling tepat dalam
merangsang rasa ingin tahu siswa adalah saat apersepsi. Jika selama ini
apersepsi selalu memuat presensi siswa dan pembacaan SK-KD, tentu tidak ada
rangsangan terhadap rasa ingin tahu siswa. Menayangkan sebuah video, membacakan
sebuah dongeng, membawa sebuah benda nyata adalah kegiatan apersepsi yang dapat
membantu merangsang rasa ingin tahu siswa. Tayangan, dongeng, atau benda nyata
yang mampu menarik rasa ingin tahu siswa antara lain dapat bersifat kontroversial,
unik, aneh, maupun langka. Setelah menampilkan hal-hal tersebut, apersepsi baru
dilanjutkan dengan membacakan tujuan pembelajaran maupun standar kompetensi yang
akan dicapai siswa.
B. Biarkan siswa bertanya.
Jika apersepsi berjalan sukses,
siswa akan ramai-ramai mengacungkan tangan mereka untuk bertanya. Jika terjadi
hal seperti itu, suasana kelas menjadi riuh sejenak. Guru harus segera memgang
kendali untuk menghentikan keriuhan kelas dengan segera menampung pertanyaan
dari siswa. Cara menampung pertanyaan siswa ygn paling baik adalah menuliskan
seluruh pertanyaan siswa pada papan tulis.
Pada kondisi tertentu, terkadang
suasana kelas terlalu hening. Artinya, tidak ada satupun pertanyaan yang muncul
dari siswa. Hal ini bisa terjadi karena beberapa sebab, entah itu bahan
apersepsi yang kurang menarik, siswa yang kurang percaya diri, bisa juga karena
siswa terlalu lelah untuk bertanya dan sebagainya. Jika kelas terlalu hening,
ada satu cara yang bisa digunakan untuk memperoleh pertanyaan dari siswa. Cara
itu ialah dengan teknik pembelajaran "secarik kertas". Teknik ini
dilakukan dengan cara menyuruh siswa untuk membuat pertanyaan dan ditulis di
kertas. Kertas yang sudah berisi pertanyaan kemudian dikumpulkan di muka kelas.
Pertanyaan-pertanyaan itu lantas dituliskan pada papan tulis.
Papan tulis yang penuh dengan
daftar pertanyaan siswa adalah indikator pembelajaran inkuiri mulai pada rel
yang benar. Namun, justru kondisi tersebut akan menentukan apakah pembelajaran
inkuiri yang akan dilakukan oleh siswa akan keluar dari batas tujuan pembelajaran
atau sesuai dengan tujuan pembelajaran. Agar pembelajaran inkuiri tidak keluar
batas, guru wajib memilih pertanyaan yang telah ada di papan tulis. Pertanyaan
yang bisa digunkan sebagai awal dari pembelajaran inkuiri adalah pertanyaan
yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Selain itu, pertanyaan itu memungkinkan
untuk dijawab oleh siswa. Artinya, pertanyaan tersebut mampu dijawab dengan
menggunakan fasilitas dan sumber belajar yang ada.
C. Guru sebagai fasilitator,
bukan sumber belajar.
Pembelajaran inkuiri dapat
dilakukan jika pertanyaan pembelajaran dipilih dan dijawab sendiri oleh siswa.
Siswa perlu diberi kebebasan untuk memilih pertanyaan yang ingin dia jawab
berdasarkan daftar pertanyaan yang telah tertulis di papan tulis. Kebebasan
yang diberikan ini akan membuat siswa benar-benar ingin menjawab pertanyaan
yang dipilihnya.
Pertanyaan yang telah dipilih
oleh masing-masing siswa tentu hars dijawab sendiri. Kebebasan dalam mencari
sumber belajar, melakukan percobaan, atau melakukan pengamatan perlu diberikan
kepada siswa dalam rangka menjawab pertanyaan pembelajaran. Dengan kata lain,
pada pembelajaran inkuiri memang perlu didukung oleh fasilitas yang memdahi.
Laboratorium, perpustakaan, maupun jaringan internet memang selayaknya harus
disediakan agar siswa memperoleh jawaban dari pertanyaan yang dipilihnya.
Meskipun demikian, bukan berarti sekolah yang minim fasilitas belajar tidak
bisa menerapkan model pembelajaran inkuiri. Semua bergantung pada kreativitas
guru dalam mengatasi minimnya fasilitas pembelajaran.
Permasalahan yang paling sering
muncul pada kegiatan mencari jawaban dari pertanyaan pembelajaran adalah siswa
tidak tahu cara menjawab pertanyaan itu. Saat itulah guru berperan penting.
Guru tidak boleh menjawab pertanyaan pembelajaran tersebut secara langsung,
tetapi guru harus memberitahukan cara untuk menjawab pertanyaan yang dimiliki
siswa. Guru harus menunjukkan metode percobaan apa yang harus dilakukan, sumber
apa yang bisa dijadikan rujukan, apa yang harus diamati, dan sebagainya dalam
rangka menjawab pertanyaan siswa.
D. Presentasi bukan merupakan
hasil akhir.
Jika siswa telah melakukan
percobaan, melakukan pengamatan, atau merangkum sumber belajar yang tepat maka
siswa tentu akan menjawab pertanyaan pembelajaran. Jawaban tersebut bisa
merupakan hasil dari penalaran siswa mapun hasil dari percobaan dan pengamatan
yang dilakukan siswa. Jawaban yang dihasilkan tentu harus dipresentasikan.
Presentasi ini tidak hanya
bermaksud untuk menarik sebuah kesimpulan, presentasi tersebut merupakan awal
dari pembangunan pengetahuan siswa. Pertanyaan pembelajaran yang sama belum
tentu menghasilkan jawaban yang sama antara
satu siswa dengan siswa lainnya. Diskusi perlu dilakukan agar jawaban siswa
saling melengkapi untuk membangun sebuah pengetahuan yang komprehensif dan
lebih luas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar