Jumat, 10 Maret 2017

Berlatih Metode Inkuiri



Hasil akhir yang ingin dicapai dalam pembelajaran di sekolah adalah terbentuknya siswa yang mampu belajar sendiri. Salah satu cara untuk membentuk siswa yang mampu belajar sendiri adalah dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri. Inkuiri merupakan model pembelajaran yang membebaskan siswa untuk memperoleh pengetahuan sendiri. Artinya, Inti dari proses pembelajaran inkuiri adalah proses belajar mandiri yang dilakukan oleh siswa.
Model pembelajaran inkuiri memang belum banyak diterapkan oleh guru. Salah satu alasan mengapa model pembelajaran ini jarang digunakan ialah karena inkuiri berlandaskan pada kebebasan siswa dalam membangun  pengetahuannya. Hal ini akan memicu terjadinya perluasan materi pembelajaran yang didapat oleh siswa. Akibatnya, pembelajaran inkuiri dapat menyebabkan pembelajaran keluar dari batas-batas yang telah ditetapkan kurikulum. Tidak jarang kegiatan pembelajaran yang memakai model inkuiri dapat keluar dari kompetensi dan indikator pembelajaran.
Meskipun metode inkuiri memiliki kekurangan, pembelajaran dengan metode inkuiri harus dilakukan dengan tujuan melatih siswa menjadi pembelajar mandiri. Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penerapan model pembelajaran inkuiri. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penerapan model pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut.
A. Semua berawal dari rasa ingin tahu.
Kodrat manusia adalah makhluk yang penuh rasa ingin tahu, begitu pula siswa. Rasa ingin tahu siswa merupakan harta karun paling berharga dalam pembelajaran. Rasa ingin tahu adalah motivasi belajar siswa yang paling tinggi. Semakin banyak siswa ingin tahu maka semakin mudah seorang guru dalam melangsungkan proses pembelajaran dengan model pembelajaran inkuiri.
Saat yang paling tepat dalam merangsang rasa ingin tahu siswa adalah saat apersepsi. Jika selama ini apersepsi selalu memuat presensi siswa dan pembacaan SK-KD, tentu tidak ada rangsangan terhadap rasa ingin tahu siswa. Menayangkan sebuah video, membacakan sebuah dongeng, membawa sebuah benda nyata adalah kegiatan apersepsi yang dapat membantu merangsang rasa ingin tahu siswa. Tayangan, dongeng, atau benda nyata yang mampu menarik rasa ingin tahu siswa antara lain dapat bersifat kontroversial, unik, aneh, maupun langka. Setelah menampilkan hal-hal tersebut, apersepsi baru dilanjutkan dengan membacakan tujuan pembelajaran maupun standar kompetensi yang akan dicapai siswa.
B. Biarkan siswa bertanya.
Jika apersepsi berjalan sukses, siswa akan ramai-ramai mengacungkan tangan mereka untuk bertanya. Jika terjadi hal seperti itu, suasana kelas menjadi riuh sejenak. Guru harus segera memgang kendali untuk menghentikan keriuhan kelas dengan segera menampung pertanyaan dari siswa. Cara menampung pertanyaan siswa ygn paling baik adalah menuliskan seluruh pertanyaan siswa pada papan tulis.
Pada kondisi tertentu, terkadang suasana kelas terlalu hening. Artinya, tidak ada satupun pertanyaan yang muncul dari siswa. Hal ini bisa terjadi karena beberapa sebab, entah itu bahan apersepsi yang kurang menarik, siswa yang kurang percaya diri, bisa juga karena siswa terlalu lelah untuk bertanya dan sebagainya. Jika kelas terlalu hening, ada satu cara yang bisa digunakan untuk memperoleh pertanyaan dari siswa. Cara itu ialah dengan teknik pembelajaran "secarik kertas". Teknik ini dilakukan dengan cara menyuruh siswa untuk membuat pertanyaan dan ditulis di kertas. Kertas yang sudah berisi pertanyaan kemudian dikumpulkan di muka kelas. Pertanyaan-pertanyaan itu lantas dituliskan pada papan tulis.
Papan tulis yang penuh dengan daftar pertanyaan siswa adalah indikator pembelajaran inkuiri mulai pada rel yang benar. Namun, justru kondisi tersebut akan menentukan apakah pembelajaran inkuiri yang akan dilakukan oleh siswa akan keluar dari batas tujuan pembelajaran atau sesuai dengan tujuan pembelajaran. Agar pembelajaran inkuiri tidak keluar batas, guru wajib memilih pertanyaan yang telah ada di papan tulis. Pertanyaan yang bisa digunkan sebagai awal dari pembelajaran inkuiri adalah pertanyaan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Selain itu, pertanyaan itu memungkinkan untuk dijawab oleh siswa. Artinya, pertanyaan tersebut mampu dijawab dengan menggunakan fasilitas dan sumber belajar yang ada.
C. Guru sebagai fasilitator, bukan sumber belajar.
Pembelajaran inkuiri dapat dilakukan jika pertanyaan pembelajaran dipilih dan dijawab sendiri oleh siswa. Siswa perlu diberi kebebasan untuk memilih pertanyaan yang ingin dia jawab berdasarkan daftar pertanyaan yang telah tertulis di papan tulis. Kebebasan yang diberikan ini akan membuat siswa benar-benar ingin menjawab pertanyaan yang dipilihnya.
Pertanyaan yang telah dipilih oleh masing-masing siswa tentu hars dijawab sendiri. Kebebasan dalam mencari sumber belajar, melakukan percobaan, atau melakukan pengamatan perlu diberikan kepada siswa dalam rangka menjawab pertanyaan pembelajaran. Dengan kata lain, pada pembelajaran inkuiri memang perlu didukung oleh fasilitas yang memdahi. Laboratorium, perpustakaan, maupun jaringan internet memang selayaknya harus disediakan agar siswa memperoleh jawaban dari pertanyaan yang dipilihnya. Meskipun demikian, bukan berarti sekolah yang minim fasilitas belajar tidak bisa menerapkan model pembelajaran inkuiri. Semua bergantung pada kreativitas guru dalam mengatasi minimnya fasilitas pembelajaran.
Permasalahan yang paling sering muncul pada kegiatan mencari jawaban dari pertanyaan pembelajaran adalah siswa tidak tahu cara menjawab pertanyaan itu. Saat itulah guru berperan penting. Guru tidak boleh menjawab pertanyaan pembelajaran tersebut secara langsung, tetapi guru harus memberitahukan cara untuk menjawab pertanyaan yang dimiliki siswa. Guru harus menunjukkan metode percobaan apa yang harus dilakukan, sumber apa yang bisa dijadikan rujukan, apa yang harus diamati, dan sebagainya dalam rangka menjawab pertanyaan siswa.
D. Presentasi bukan merupakan hasil akhir.
Jika siswa telah melakukan percobaan, melakukan pengamatan, atau merangkum sumber belajar yang tepat maka siswa tentu akan menjawab pertanyaan pembelajaran. Jawaban tersebut bisa merupakan hasil dari penalaran siswa mapun hasil dari percobaan dan pengamatan yang dilakukan siswa. Jawaban yang dihasilkan tentu harus dipresentasikan.
Presentasi ini tidak hanya bermaksud untuk menarik sebuah kesimpulan, presentasi tersebut merupakan awal dari pembangunan pengetahuan siswa. Pertanyaan pembelajaran yang sama belum tentu menghasilkan jawaban  yang sama antara satu siswa dengan siswa lainnya. Diskusi perlu dilakukan agar jawaban siswa saling melengkapi untuk membangun sebuah pengetahuan yang komprehensif dan lebih luas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar