Geografi merupakan mata pelajaran yang bisa menghasilkan produk. Produknya tentu merupakan media informasi keruangan seperti peta, penampang melintang, blok diagram, dan peta citra. Produk tersebut tentu dapat dipublikasikan kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya sumbangsih mata pelajaran geografi bagi pendidikan masyarakat umum. Murid-murid dapat memberikan pengetahuan keruangan bagi masyarakat umum melalui produk pembelajaran geografi yang mereka hasilkan.
Selama ini, ada anggapan bahwa produk-produk pembelajaran geografi hanya dihasilkan dari pembelajaran luar ruang. Akibatnya, sekolah-sekolah hanya fokus untuk memberikan fasilitas pembelajaran geografi dalam bentuk program studi lapangan. Fasilitas pembelajaran geografi dalam ruang belum diperhatikan, padahal sebagian besar proses pembelajaran geografi yang menghasilkan produk berupa media informasi keruangan dilakukan di dalam kelas.
Mata pelajaran geografi membutuhkan ruang khusus. Ruang yang digunakan untuk menggambar media informasi keruangan. Ruang tersebut juga berguna untuk melakukan serangkaian percobaan keruangan.
Alih-alih disebut sebagai laboratorium, ruang khusus pembelajaran geografi ini lebih elok disebut sebagai studio geografi. Studio merupakan tempat untuk menghasilkan sebuah produk. Sementara itu, laboratorium merupakan tempat percobaan yang mampu meminimalkan faktor-faktor lain diluar faktor eksperimen.
Studio geografi perlu disediakn oleh sekolah. Studio geografi berperan sebagai tempat untuk menggambar media informasi keruangan yang merupakan produk geografi. Studio juga berfungsi untuk menyimpan berbagai media informasi keruangan serta alat-alat yang dibutuhkan untuk memperolehnya.
Pada studio geografi, siswa dapat melakukan aktivitas penbelajaran sebagai berikut:
1. Pengamatan citra penginderaan jauh.
2. Pengamatan peta.
3. Pengukuran peta.
4. Replikasi peta.
5. Kompilasi peta.
6. Pembuatan blok diagram.
7. Pengkajian peta dengan ohp.
8. Pembuatan peta.
9. Dan aktivitas lainnya yang berhubungan dengan pembelajaran geografi.
Ruang studio geografi merupakan ruang yang bisa gelap-terang. Ruangan juga perlu terbebas dari tiupan angin yang dapat menghamburkan kertas-kertas. Meja yang digunakan adalah meja lampu yang digunakan untuk melakukan kompilasi peta. Selain itu, juga ada meja yang digunakan untuk menggambar peta. Rak-rak penyimpanan digunakan untuk menyimpan lembaran peta atau citra. Terdapat pula rak untuk menyimpan blok diagram atau maket. Selain itu, terdapat almari yang berisi alat-alat gambar seperti pantograf, stereoskop, ohp, dan sebagainya. Komputer, printer, scanner juga diperlukan jika ingin mempersiapkan materi secara digital.
Banyak belajar, Masih mengajar, Sedikit mengajari...
Sabtu, 19 Agustus 2017
Studio geografi
Sabtu, 17 Juni 2017
HOAKS : panas di luar, panas di kelas...
Hoaks merupakan berita yang belum tentu kebenarannya. Istilah ini sering digunakan pada kalangan pecandu media sosial. Hoaks dapat berupa artikel, status, gambar, rekaman suara maupun video.
Beberapa pihak memang sangat menentang keberadaan hoaks. Alasannya, hoaks dapat menyebabkan keributan di masyarakat, menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap sebuah merk dagang, memicu konflik sosial, memicu konflik individu, memecah belah masyarakat, dan sebagainya. Pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh hoaks berupaya dengan berbagai macam cara agar dapat menghilangkan berita hoaks tersebut. Tak jarang, banyak pihak yang menyelesaikan kasus hoaks melalui jalur hukum.
Sebenarnya, ada satu sisi positif dari beredarnya hoaks. Peredaran hoaks akan membuat masyarakat berhati-hati dalam menyikapi sebuah informasi. Mereka akan berupaya menguji setiap informasi yang mereka dapatkan. Dengan kata lain, mereka melakukan kegiatan ilmiah maupun semiilmiah untuk membangun pengetahuan mereka sendiri.
Sebagai bagian dari masyarakat, siswa sekolah juga dapat terbentur dengan hoaks yang beredar. Sebagai akibatnya, mereka akan membawa hoaks-hoaks itu ke dalam kelas. Mereka akan memperbincangkan hoaks tersebut sesama teman. Bahkan, mereka juga akan membawa hoaks tersebut ke dalam kelas.
Siswa yang berfikiran kritis akan membawa hoaks itu untuk ditanyakan ke guru. Siswa akan bertanya tentang kebenaran hoaks tersebut. Ini adalah anugrah dalam pembelajaran. Hoaks tersebut dapat digunakan sebagai materi pembelajaran. Guru dapat memanipulasi hoaks tersebut sebagai bahan masalah pada pembelajaran problem based learning maupun bahan perdebatan pada pembelajaran debat. Peran guru sebenarnya hanya menghangatkan hoaks tersebut sehingga nanti akan diperoleh materi pembelajaran yang bisa memotivasi siswa belajar. Siswa termotivasi karena mereka INGIN TAHU kebenaran hoaks tersebut.
Sabtu, 08 April 2017
Makna Belajar
Kita belajar untuk:
1. Memudahkan komunikasi
2. Mencari kebenaran.
3. Menciptakan kemandirian.
4. Menaati aturan.
Kamis, 06 April 2017
Apakah LKS itu penting?
Sabtu, 01 April 2017
Bagaimana Merumuskan Indikator Pembelajaran?
Jumat, 31 Maret 2017
Mengajarkan Penelitian
Pada materi penelitian, terdapat beberapa pokok materi yang perlu diajarkan kepada siswa. Pokok materi ini tentu harus menjadi indikator dalam pembelajaran materi penelitian. Indikator yang perlu dicapai dalam pembelajaran materi penelitian antara lain:
1. Siswa mampu menjelaskan tentang konsep penelitian.
Konsep penelitian harus dipahami oleh siswa. Siswa harus memiliki persepsi yang benar terhadap makna dari penelitian. Jika mereka telah mampu mengenali makna penelitian, maka diharapkan mereka juga mampu melakukan penelitian dalam pemecahan masalah di kehidupan sehari-hari.
2. Siswa mampu memberi contoh permasalahan penelitian.
Setiap mata pelajaran tentu memiliki objek kajian yang berbeda-beda. Objek ini memang terkadang merupakan permasalahan yang sama, sehingga terjadi benturan objek kajian antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain. Namun, siswa dituntut untuk mampu memisahkan permasalahan hingga mampu dikaji atau diteliti oleh satu mata pelajaran saja. Misalnya, kemiskinan merupakan permasalahan yang bisa diteliti oleh mata pelajaran ekonomi dan sosiologi. Namun, ekonomi lebih menitikberatkan pada hal keuangan dan sosiologi menitikberatkan pada hal yang bersifat sosial. Pada akhirnya, penelitian tentang kemiskinan pada mapel ekonomi lebih kepada upaya-upaya kebijakan keuangan dan penelitian tentang kemiskinan pada mapel sosiolo lebih kepada upaya yang bersifat sosial.
Jika siswa mampu mengetahui batasan-batasan suatu permasalahn sehingga dapat diteliti oleh suatu mata pelajaran saja, maka siswa pasti mampu memberikan contoh-contoh permasalahan penelitian sesuai dengan mapel yang dipelajari.
3. Siswa mampu mengidentifikasi metode penelitian.
Pada satu cabang ilmu pengetahuan bisa terdapat lebih dari satu metode penelitian. Sehingga, agar siswa mampu mengidentifikasi metode penelitian maka guru bisa memberikan contoh penelitian dengan berbagai macam metode penelitian.
Berdasarkan saran indikator tersebut, berikut ini langkah-langkah yang bisa dilakukan guru pada saat pembelajaran dengan materi penelitian.
1. Apersepsi tentang manfaat penelitian.
2. Pengamatan terhadap contoh-contoh penelitian.
3. Mengidentifikasi syarat-syarat agar suatu permasalahan bisa diteliti.
4. Merancang penelitian.
Teknik Pembelajaran untuk Kegiatan Menyajikan Informasi
1. A-Z taxonomy.
Teknik ini dilakukan dengan mengajak siswa untuk membuat daftar istilah yang ia pelajari selama proses pembelajaran. Daftar istilah tersebut kemudian diurutkan sesuai abjad. Hasilnya dapat diwujudkan dalam bentuk kamus maupun ensiklopedia.
2. Picture making.
Teknik ini dilakukan dengan cara menugaskan siswa untuk membuat gambar yang mampu merepresentasikan hasil pembelajaran. kegiatan ini bisa dilakukan dengan berbagai macam media. Intinya, media tersebut merupakan tampilan hasil dari kegiatan pembelajaran siswa. Media yang bisa digunakan antara lain, yaitu: poster, pamflet, video, blog, dan sebagainya.
3. Pameran dan pentas seni.
Pameran dan pentas seni digunakan untuk menampilkan hasil pembelajaran siswa dalam mata pelajaran kesenian. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan jika mata pelajaran lain juga bisa disampaikan melalui pameran maupun pentas seni. Misalnya, pada mata pelajaran sejarah, hasil dari penelitian siswa dapat diwujudkan dalam bentuk pementasan drama kolosal yang naskahnya berasal dari temuan siswa.
4. Jurnal ilmiah.
Teknik ini dilakukan dengan cara menugaskan siswa menulis jurnal ilmiah.