Sabtu, 19 Agustus 2017

Studio geografi

Geografi merupakan mata pelajaran yang bisa menghasilkan produk. Produknya tentu merupakan media informasi keruangan seperti peta, penampang melintang, blok diagram, dan peta citra. Produk tersebut tentu dapat dipublikasikan kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya sumbangsih mata pelajaran geografi bagi pendidikan masyarakat umum. Murid-murid dapat memberikan pengetahuan keruangan bagi masyarakat umum melalui produk pembelajaran geografi yang mereka hasilkan.
Selama ini, ada anggapan bahwa produk-produk pembelajaran geografi hanya dihasilkan dari pembelajaran luar ruang. Akibatnya, sekolah-sekolah  hanya fokus untuk memberikan fasilitas pembelajaran geografi dalam bentuk program studi lapangan. Fasilitas pembelajaran geografi dalam ruang belum diperhatikan, padahal sebagian besar proses pembelajaran geografi yang menghasilkan produk berupa media informasi keruangan dilakukan di dalam kelas.
Mata pelajaran geografi membutuhkan ruang khusus. Ruang yang digunakan untuk menggambar media informasi keruangan. Ruang tersebut juga berguna untuk melakukan serangkaian percobaan keruangan.
Alih-alih disebut sebagai laboratorium, ruang khusus pembelajaran geografi ini lebih elok disebut sebagai studio geografi. Studio merupakan tempat untuk menghasilkan sebuah produk. Sementara itu, laboratorium merupakan tempat percobaan yang mampu meminimalkan faktor-faktor lain diluar faktor eksperimen.
Studio geografi perlu disediakn oleh sekolah. Studio geografi berperan sebagai tempat untuk menggambar media informasi keruangan yang merupakan produk geografi. Studio juga berfungsi untuk menyimpan berbagai media informasi keruangan serta alat-alat yang dibutuhkan untuk memperolehnya.
Pada studio geografi, siswa dapat melakukan aktivitas penbelajaran sebagai berikut:
1. Pengamatan citra penginderaan jauh.
2. Pengamatan peta.
3. Pengukuran peta.
4. Replikasi peta.
5. Kompilasi peta.
6. Pembuatan blok diagram.
7. Pengkajian peta dengan ohp.
8. Pembuatan peta.
9. Dan aktivitas lainnya yang berhubungan dengan pembelajaran geografi.
Ruang studio geografi merupakan ruang yang bisa gelap-terang. Ruangan juga perlu terbebas dari tiupan angin yang dapat menghamburkan kertas-kertas. Meja yang digunakan adalah meja lampu yang digunakan untuk melakukan kompilasi peta. Selain itu, juga ada meja yang digunakan untuk menggambar peta. Rak-rak penyimpanan digunakan untuk menyimpan lembaran peta atau citra. Terdapat pula rak untuk menyimpan blok diagram atau maket. Selain itu, terdapat almari yang berisi alat-alat gambar seperti pantograf, stereoskop, ohp, dan sebagainya. Komputer, printer, scanner juga diperlukan jika ingin mempersiapkan materi secara digital.

Sabtu, 17 Juni 2017

HOAKS : panas di luar, panas di kelas...

Hoaks merupakan berita yang belum tentu kebenarannya. Istilah ini sering digunakan pada kalangan pecandu media sosial. Hoaks dapat berupa artikel, status, gambar, rekaman suara maupun video.
Beberapa pihak memang sangat menentang keberadaan hoaks. Alasannya, hoaks dapat menyebabkan keributan di masyarakat, menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap sebuah merk dagang, memicu konflik sosial, memicu konflik individu, memecah belah masyarakat, dan sebagainya. Pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh hoaks berupaya dengan berbagai macam cara agar dapat menghilangkan berita hoaks tersebut. Tak jarang, banyak pihak yang menyelesaikan kasus hoaks melalui jalur hukum.
Sebenarnya, ada satu sisi positif dari beredarnya hoaks. Peredaran hoaks akan membuat masyarakat berhati-hati dalam menyikapi sebuah informasi. Mereka akan berupaya menguji setiap informasi yang mereka dapatkan. Dengan kata lain, mereka melakukan kegiatan ilmiah maupun semiilmiah untuk membangun pengetahuan mereka sendiri.
Sebagai bagian dari masyarakat, siswa sekolah juga dapat terbentur dengan hoaks yang beredar. Sebagai akibatnya, mereka akan membawa hoaks-hoaks itu ke dalam kelas. Mereka akan memperbincangkan hoaks tersebut sesama teman. Bahkan, mereka juga akan membawa hoaks tersebut ke dalam kelas.
Siswa yang berfikiran kritis akan membawa hoaks itu untuk ditanyakan ke guru. Siswa akan bertanya tentang kebenaran hoaks tersebut. Ini adalah anugrah dalam pembelajaran. Hoaks tersebut dapat digunakan sebagai materi pembelajaran. Guru dapat memanipulasi hoaks tersebut sebagai bahan masalah pada pembelajaran problem based learning maupun bahan perdebatan pada pembelajaran debat. Peran guru sebenarnya hanya menghangatkan hoaks tersebut sehingga nanti akan diperoleh materi pembelajaran yang bisa memotivasi siswa belajar. Siswa termotivasi karena mereka INGIN TAHU kebenaran hoaks tersebut.

Sabtu, 08 April 2017

Makna Belajar

Kita belajar untuk:
1. Memudahkan komunikasi
2. Mencari kebenaran.
3. Menciptakan kemandirian.
4. Menaati aturan.

Kamis, 06 April 2017

Apakah LKS itu penting?

Lembar Kerja Siswa (LKS) hampir tertulis dalam semua Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) guru. Ada yang menuliskan LKS sebagai sumber belajar, ada yang menulis LKS sebagai alat pembelajaran, ada pula yang menulis LKS sebagai media pembelajaran. Entah sejak kapan fenomena ini bermunculan, tetapi kemunculan LKS sebagai benda yang multifungsi dalam pembelajaran tak bisa dipungkiri. 

Lembar Kerja Siswa yang merupakan benda multifungsi dalam pembelajaran telah dianggap memiliki peran yang penting dalam proses pembelajaran formal. Bahkan, ada anggapan bahwa suatu mata pelajaran  sulit untuk  berlangsung jika  mata pelajaran tersebut tidak memiliki LaKS. Hal ini tentu menjadi ironi yang terjadi di dunia pembelajaran formal. Adanya anggapan tersebut menunjukkan bahwa guru telah kehilangan kreativitas dalam menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif.

Lembar Kerja Siswa yang selama ini beredar di sekolah merupakan terbitan dari perusahaan penerbitan yang sebagian besar merupakan perusahaan swasta. Lembar Kerja Siswa disusun dan dicetak oleh perusahaan swasta tentu berorientasi pada pasar. Pasar LKS yang dimaksud adalah guru. Guru merupakan konsumen tingkat pertama dari bisnis ini. Apa yang dibutuhkan oleh guru tentu akan penuhi oleh perusahaan-perusahaan tersebut. Perusahaan penerbit akan menyusun LKS sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kebutuhan guru.

Akibat dari kebutuhan pasar, muncul LKS yang memiliki isi dan struktur yang unik. Keunikan ini terletak pada isi LKS yang lebih mengutamakan rangkuman materi pembelajaran dan alat evaluasi hasil pembelajaran. Padahal, jika ditelaah dari segi bahasa, LKS seharusnya hanya berisi tentang panduan siswa untuk mempelajari materi secara mandiri sekaligus sebagai alat evaluasi terhadap proses belajar yang dilalui siswa. 

Lembar kerja siswa sebaiknya berisi tentang kumpulan permasalahan, fenomena, teori yang bisa digunakan siswa sebagai bahan untuk ditelit. Pada pelajaran rumpun IPS, LKS bisa disusun dari kumpulan artikel yang berkaitan dengan materi dan bidang studi bersangkutan. Misalnya, LKS yang akan digunakan untuk mengajarkan pelajaran geografi pada bab hidrosfer, mengandung muatan yang isinya adalah artikel-artikel tentang peristiwa banjir. Muatan ini diharapkan mampu memotivasi siswa untuk tertarik meneliti tentang hidrosfer. Pada pelajaran rumpun IPA, LKS bisa disusun dari kumpulan permasalahan sehari-hari yang bisa dipecahkan melalui pembelajaran tentang materi dan bidang studi yang bersangkutan.

Jika LKS bisa memuat hal yang mampu memotivasi siswa untuk melakukan penelitian, maka LKS dapat membantu menciptakan pembelajaran yang bersifat inkuiri maupun diskoveri. Pembelajaran inkuiri dan diskoveri merupakan pembelajaran yang bisa menjawab tantangan masyarakat modern. Pembelajaran inkuiri dan diskoveri akan membentuk manusia yang siap menerima arus informasi yang deras yang terjadi pada masa manusia modern.

Sabtu, 01 April 2017

Bagaimana Merumuskan Indikator Pembelajaran?

Indikator pembelajaran merupakan tolok ukur ketercapaian pembelajaran siswa. Indikator berguna untuk memberikan batasan sejauh manakah siswa telah menguasai materi pembelajaran maupun belum. Indikator pembelajaran dapat digunakan sebagai dasar perumusan proses pembelajaran hingga evaluasi.

Indikator pembelajaran disusun oleh guru. Penyusunannya tentu pelu disesuaikan oleh banyak hal. Faktor yang berpengaruh terhadap penyusunan indikator pembelajaran yaitu:
1. Kompetensi dasar.
Indikator merupakan pengembangan dari kompetensi dasar. Indikator pembelajaran tidak boleh keluar dari muatan kompetensi dasar.
2. Fasilitas pembelajaran.
Penyusunan indikator juga harus memperhatikan media pembelajaran dan alat pembelajaran yang tersedia. Penyusunan indikator pembelajaran yang tidak memerhatikan fasilitas pembelajaran tersebut tentu sangat sulit untuk tercapai.
3. Kondisi lingkungan siswa.
Indikator pembelajaran juga bisa menjadi patokan materi pembelajaran yang hendak disampaikan. Materi pembelajaran yang baik tentu berhubungan dengan kondisi lingkungan siswa. Sehingga, indikator pembelajaran juga perlu memerhatikan  kondisi lingkungan siswa.
4. Tingkat kemampuan berfikir siswa.
Siswa memiliki tingkat kemampuan berfikir dari yang paling mudah hingga yang paling susah. Tingkat kemampuan berfikir ini tentu mempengaruhi perumusan indikator. Sehubungan dengan tingakt pemikiran siswa ini pada ranah kognitif, indikator dapat disusun sebagai berikut. 
a. Indikator tentang penguasaan istilah.
b. Indikator tentang penjelasan terhadap proses.
c. Indikator tentang pengelompokkan atau klasifikasi.
d. Indikator tentang prediksi atau kemungkinan.
e. indikator tentang penilaian.

Jumat, 31 Maret 2017

Mengajarkan Penelitian

Beberapa mata pelajaran di sekolah jenjang SMA/MA mengandung kompetensi dasar tentang  "penelitian". Materi penelitian bisa menjadi dasar dari pembelajaran saintifik. Siswa akan kesulitan melaksanakan pembelajaran saintifik jika tidak dibekali dengan materi penelitian. Hal ini tentu melatarbelakangi beberapa mata pelajaran yang meletakkan kompetensi dasar penelitian setelah kompetensi dasar hakikat ilmu mata pelajaran yang bersangkutan.

Pada materi penelitian, terdapat beberapa pokok materi yang perlu diajarkan kepada siswa. Pokok materi ini tentu harus menjadi indikator dalam pembelajaran materi penelitian. Indikator yang perlu dicapai dalam pembelajaran materi penelitian antara lain:
1. Siswa mampu menjelaskan tentang konsep penelitian.
Konsep penelitian harus dipahami oleh siswa. Siswa harus memiliki persepsi yang benar terhadap makna dari penelitian. Jika mereka telah mampu mengenali makna penelitian, maka diharapkan mereka juga mampu melakukan penelitian dalam pemecahan masalah di kehidupan sehari-hari.
2. Siswa mampu memberi contoh permasalahan penelitian.
Setiap mata pelajaran tentu memiliki objek kajian yang berbeda-beda. Objek ini memang terkadang merupakan permasalahan yang sama, sehingga terjadi benturan objek kajian antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain. Namun, siswa dituntut untuk mampu memisahkan permasalahan hingga mampu dikaji atau diteliti oleh satu mata pelajaran saja. Misalnya, kemiskinan merupakan permasalahan yang bisa diteliti oleh mata pelajaran ekonomi dan sosiologi. Namun, ekonomi lebih menitikberatkan pada hal keuangan dan sosiologi menitikberatkan pada hal yang bersifat sosial. Pada akhirnya, penelitian tentang kemiskinan pada mapel ekonomi lebih kepada upaya-upaya kebijakan keuangan dan penelitian tentang kemiskinan pada mapel sosiolo lebih kepada upaya yang bersifat sosial.
Jika siswa mampu mengetahui batasan-batasan suatu permasalahn sehingga dapat diteliti oleh suatu mata pelajaran saja, maka siswa pasti mampu memberikan contoh-contoh permasalahan penelitian sesuai dengan mapel yang dipelajari.
3. Siswa mampu mengidentifikasi metode penelitian.
Pada satu cabang ilmu pengetahuan bisa terdapat lebih dari satu metode penelitian. Sehingga, agar siswa mampu mengidentifikasi metode penelitian maka guru bisa memberikan contoh penelitian dengan berbagai macam metode penelitian.

Berdasarkan saran indikator tersebut, berikut ini langkah-langkah yang bisa dilakukan guru pada saat pembelajaran dengan materi penelitian.

1. Apersepsi tentang manfaat penelitian.
2. Pengamatan terhadap contoh-contoh penelitian.
3. Mengidentifikasi syarat-syarat agar suatu permasalahan bisa diteliti.
4.  Merancang penelitian.

Teknik Pembelajaran untuk Kegiatan Menyajikan Informasi

Kegiatan menyajikan informasi merupakan kegiatan terakhir dari pembelajaran saintifik. Ada banyak media yang bisa dimanfaatkan dalam kegiatan ini. Majalah dinding, website, naskah drama, pamflet, poster, ensiklopedia merupakan contoh media yang bisa dipakai siswa untuk menyajikan hasil pembelajaran. Hal terpenting pada kegiatan ini terletak pada kemampuan guru memberikan apresiasi terhadap hasil penyajian karya siswa. Semakin baik apresiasi diberikan, semakin besar motivasi belajar siswa pada pembelajaran selanjutnya.
1. A-Z taxonomy.
Teknik ini dilakukan dengan mengajak siswa untuk membuat daftar istilah yang ia pelajari selama proses pembelajaran. Daftar istilah tersebut kemudian diurutkan sesuai abjad. Hasilnya dapat diwujudkan dalam bentuk kamus maupun ensiklopedia.
2. Picture making.
Teknik ini dilakukan dengan cara menugaskan siswa untuk membuat gambar yang mampu merepresentasikan  hasil pembelajaran. kegiatan ini bisa dilakukan dengan berbagai macam media. Intinya, media tersebut merupakan tampilan hasil dari kegiatan pembelajaran siswa. Media yang bisa digunakan antara lain, yaitu: poster, pamflet, video, blog, dan sebagainya.
3. Pameran dan pentas seni.
Pameran dan pentas seni digunakan untuk menampilkan hasil pembelajaran siswa dalam mata  pelajaran kesenian. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan jika mata pelajaran lain juga bisa disampaikan melalui pameran maupun pentas seni. Misalnya, pada mata pelajaran sejarah, hasil dari penelitian siswa dapat diwujudkan dalam bentuk pementasan drama kolosal yang naskahnya berasal dari temuan siswa.
4. Jurnal ilmiah.
Teknik ini dilakukan dengan cara menugaskan siswa menulis jurnal ilmiah.